Ada seorang teman yg bercerita bahwa dia sedang sedih karena mendengar kabar bahwa ada teman lamanya yang meninggal dunia karena bunuh diri. Jadi temannya ini adalah seorang istri yang ditinggal suami demi wanita lain. Itu membuatnya depresi dan mengambil langkah fatal. Saya tidak mengenal wanita itu, tapi saya benar-benar sangat menyayangkan jiwanya yang kini hilang itu.
Kalau saja saya sempat bertemu dengan wanita itu, saya bisa dengan mudah membanjiri telinganya dengan kata-kata bijak supaya dia tidak depresi lagi. Itu karena saya tidak ikut mengalami dan merasakan beratnya masalah yang mendera pikiran wanita itu. Kalau saya menghadapi masalah yang sangat berat, kemungkinan besar pikiran saya juga kalut dan bingung harus melakukan apa. Namun bagaimanapun juga, orang yang sedang depresi memang seharusnya datang kepada orang yang sedang tidak menghadapi masalah. Anda bisa membayangkan kalau orang depresi datang kepada sesama orang depresi juga. Bisa jadi bukan nasihat yang diberikan, tapi ajakan untuk bunuh diri bersama. Hanya saja, kalau seandainya ada di antara teman atau saudara kita yang berada dalam kondisi seperti itu, maka kita harus sangat bijak dalam menyikapinya.
Gembala saya di Surabaya pernah mengibaratkan bahwa kalau ada gelas yang menumpahkan bir, itu karena gelas itu berisi bir. Kalau gelas itu berisi air, maka yang tumpah adalah air. Saya pikir memang demikian. Sesendok air tidak akan membuat segelas bir itu menjadi jernih. Namun kalau sesendok demi sesendok dimasukkan, maka lama kelamaan gelas itu akan berisi air dan menjadi jernih. Itu adalah satu fakta yang sangat sederhana dan tidak ada hubungannya dengan orang depresi...
Sebentar, kalau dipikir-pikir, pikiran orang yang depresi itu seperti gelas berisi bir yang memabukkan. Kita tidak bisa menasihati dia satu kali saja dan berharap pikirannya langsung menjadi jernih saat itu juga. Butuh kesabaran dan ketelatenan untuk memasukkan sesendok demi sesendok air jernih ke dalam pikiran yang kalut. Kecuali kalau yang dihadapi adalah masalah keuangan, tapi itu adalah kisah untuk hari yang lain.
Orang yang depresi, pikirannya sedang penuh dengan hal-hal yang negatif. Oleh karena itu, yang perlu kita masukkan ke dalam pikirannya adalah lawan dari hal negatif, dan itu bukan hal positif. Saya teringat akan kisah wanita Samaria yang bertemu Yesus di sumur yang dicatat dalam Yohanes 4: 13-14, Yesus berkata, "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Pikiran positif bersifat seperti air dalam sumur itu. Menyegarkan, tapi hanya sesaat saja. Mereka memerlukan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekedar pikiran positif. Mereka memerlukan Sang Air Kehidupan itu sendiri! Oleh karenanya, kita perlu memasukkan kesadaran akan besarnya kasih Yesus bagi dia. Apalagi kalau dia sampai memiliki pikiran untuk bunuh diri. Bukankah Yesus mati supaya kita semua hidup? Adakah bukti kasih yang lebih besar dari kerelaan Yesus mati disalib? Melalui pengorbananNya, my friend, Yesus hendak berkata kepada kita, "Kalau nyawaku saja Kukorbankan untukmu, maukah kau percaya bahwa Aku sedang menemanimu saat ini? Aku benar-benar mengerti apa yang kau rasakan. Teruslah hidup karena Aku sayang kamu “
Tuhan Yesus Memberkati.