Bethany Sydney
← All messages

Minggu, 3 Mei 2026

KETIKA LAMPU BLITZ MENYALA

By Jimmy Tjandra

Hi, fam, saya mau cerita tentang pengalaman saya mengarungi lalu lintas Sydney. Kadang macet, kadang padat merayap, tapi kadang lancar juga. Namun yang pasti, lalu lintas Sydney ini sangat teratur. Salah satu perangkat yang dipakai untuk mengatur lalu lintas itu adalah kamera. Jadi kalau ada yang maju terus pantang mundur sekalipun lampu di perempatan sedang merah, atau ada yang nekat melanggar batas kecepatan, atau mungkin melakukan pelanggaran lainnya, maka itu akan memicu lampu blitz menyala.

Bayangkan kalau kita melakukan perjalanan sejauh 100 km dan 99 km taat akan aturan lalu lintas tanpa satupun pelanggaran. Lalu 100 m sebelum sampai tujuan kita menerobos lampu merah, maka ketaatan sepanjang 99 km dan 900 m itu tidak akan dihitung, lampu blitz tetap akan menyala dan doa dalam 7 bahasa rasanya juga tidak akan menghentikan datangnya surat tilang ke pangkuan kita.

Perjalanan hidup manusia sebenarnya juga bisa dianalogikan seperti itu. Kadang hidup ini terasa berat, kadang biasa-biasa saja, tapi kadang juga lancar. Namun apapun yang dialami manusia dalam hidupnya, kita semua berjalan ke tujuan akhir yang sama. Ujung jalan kehidupan kita adalah kematian. Di batas akhir kehidupan itulah ada kamera yang harus kita lalui. Kalau lampu blitznya menyala, maka kita akan menjalani kehidupan kedua dimana hanya ada ratap dan kertak gigi. Selamanya. Banyak orang berpikir bahwa mereka akan melalui kamera itu dengan selamat karena mereka telah banyak melakukan kebaikan selama hidupnya. Mereka beramal, berbuat baik kepada sesama, berdoa, dan bahkan berusaha taat kepada Firman Tuhan.

Mazmur 14:2-3 berkata,” Tuhan memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” Wah, ayat ini adalah kabar buruk. Bagaimana tidak? Dikatakan disana bahwa tidak ada yang berbuat baik, bahkan yang biasa-biasa saja tidak ada karena semuanya telah bejat! Dan saya yakin bahwa Anda dan saya termasuk dalam kategori “semuanya”. Mungkin satu-satunya pemikiran yang bisa kita katakan untuk menghibur diri sendiri adalah bahwa ayat itu ada di Perjanjian Lama, sedangkan kita hidup di jaman anugerah karena Yesus telah mati bagi kita semua. Nyatanya Paulus, yang juga hidup setelah kematian Yesus mengutip Mazmur tadi dalam Roma 3:10, "Seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.” Ternyata Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru masih berlaku dalam hidup kita.

Apa yang hendak dikatakan Paulus adalah bahwa hidup dalam jaman anugerah berarti mengakui korban Kristus yang begitu berharga. Tanpa salibNya, hidup kita adalah hidup yang bejat di mata Allah, sebaik apapun kita. Kalau kita diperkenan Allah, maka itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Begitu lanjut Paulus dalam Efesus 2:9.

Saya menyadari bahwa Anda yang membaca warta ini tentu adalah jemaat di Bethany Sydney dan termasuk dalam golongan orang percaya. Tapi entah mengapa, saya merasa tergerak untuk menulis hal ini. Mungkin saja ada di antara Anda yang memerlukan pesan ini, atau mungkin juga ada di antara Anda yang sedang memikirkan seseorang yang memerlukan pesan ini. Apapun alasannya, my friend, jangan biarkan lampu blitz itu menyala di akhir hidupmu.

Tuhan Yesus memberkati.