Bethany Sydney
← Semua khotbah

Minggu, 27 September 2026

EMPAT MAKLUK (Four Living Creatures)

Ps. Agus Gunawan

Transkrip

Wahyu 4:1-11 Dalam penglihatannya di pulau Patmos, Rasul Yohanes melihat sebuah pintu terbuka di sorga dan sebuah takhta yang gilang-gemilang, dikelilingi pelangi bagaikan zamrud. Pelangi itu adalah tanda perjanjian kekal Allah dengan bumi sejak zaman Nuh (Kej 9:12-16), dan perjanjian itulah yang menghiasi takhta-Nya. Di sekeliling takhta itu ada empat makhluk, yaitu malaikat-malaikat bersayap enam seperti serafim yang dilihat Yesaya (Yes 6:2-3), yang siang dan malam tidak berhenti berseru, "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa." Mereka adalah penyembah di hadapan takhta Allah, dan wajah mereka menggambarkan empat karakter ibadah yang harus kita miliki.

1. Menyembah seperti singa Ibadah dengan keberanian. Singa bukan binatang yang terbesar, tertinggi, tercepat, atau terpintar, tetapi ia disebut raja binatang karena "tidak mundur terhadap apa pun" (Ams 30:30). "Orang benar merasa aman seperti singa muda" (Ams 28:1). Jangan menjadi orang Kristen yang malu mengakui Yesus, baik di tempat kos, di tempat kerja, maupun dalam bisnis. Tuhan tidak membutuhkan ibadah kita; kitalah yang membutuhkan-Nya, sebab Dialah yang memberikan hidup dan napas kepada semua orang (Kis 17:24-25). Biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan (Maz 150:6).

2. Menyembah seperti lembu Ibadah dengan tekun. Lembu membajak justru di musim kering, karena ia sedang mempersiapkan datangnya hujan. Demikian juga kita tetap beribadah bukan hanya saat diberkati, tetapi justru ketika visa belum keluar, ketika kesembuhan belum dinyatakan, atau ketika tekanan ekonomi dan keluarga belum berlalu. "Yehuda harus membajak" (Hos 10:11), dan Yehuda berarti pujian. Percayalah, ketika kita tekun beribadah, hujan berkat itu pasti turun, dan Tuhan akan memulihkan tahun-tahun yang hilang (YI 2:24-26).

3. Menyembah seperti manusia Ibadah sekalipun dalam kelemahan. Tuhan ingat bahwa kita ini debu (Maz 103:14). Lucifer, malaikat penyembah, jatuh walaupun berada dalam kemuliaan, tetapi Tuhan menanti kita untuk menyembah-Nya. Yang Iblis ingin rampas dari Ayub sebenarnya adalah ibadahnya. Dalam satu hari Ayub kehilangan harta dan kesepuluh anaknya, lalu tubuhnya ditimpa barah yang busuk. Namun ia tidak berbuat dosa dengan bibirnya: "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN" (Ayb 1:21). "Walaupun Ia membunuh aku, aku akan berharap kepada-Nya" (Ayb 13:15). Pada akhirnya Tuhan memulihkan Ayub dan memberkatinya dua kali lipat (Ayb 42:10-17). Siapa yang belajar menyembah dalam kelemahan di bumi akan menyembah dalam kemuliaan di sorga.

4. Menyembah seperti rajawali Ibadah dengan iman yang teguh. Rajawali tidak panik ketika badai datang. Ia tidak dapat menghentikan badai, tetapi ia melebarkan sayapnya dan terbang di atasnya, hingga lebih dari 4.600 meter, lebih tinggi daripada gunung tertinggi di Australia maupun di Indonesia. "Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru, mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya" (Yes 40:31). Tidak ada gunung atau badai dalam hidup kita yang lebih besar daripada Tuhan kita.

Ketika lukisan Mona Lisa dicuri dari Museum Louvre pada tahun 1911, justru lebih banyak orang datang dan membayar tiket hanya untuk melihat tembok yang kosong. Jangan sampai kita datang ke gereja hanya untuk melihat ruang yang kosong. Hadirat Tuhan itu nyata dan berkuasa. Karena itu, marilah kita beribadah dengan berani, dengan tekun, sekalipun dalam kelemahan, dan dengan iman yang teguh. Tuhan Yesus Memberkati.