Bethany Sydney
← Semua khotbah

Minggu, 23 Agustus 2026

BUAH ROH : KINDNESS

Ps. Alberd Tanoni

Transkrip

Kindness atau kemurahan merupakan salah satu buah Roh yang seharusnya terlihat nyata dalam kehidupan setiap orang percaya. Dalam bahasa Yunani digunakan kata chrēstotēs (χρηστότης), yang menggambarkan kebaikan dan kemurahan yang berguna bagi orang lain, dilakukan dengan hati yang lembut dan tanpa mengharapkan imbalan. Efesus 2:7 menunjukkan bahwa kemurahan itu pertama-tama kita alami melalui kasih karunia Allah yang diberikan dengan cuma-cuma kepada kita di dalam Kristus Yesus. Karena kita telah menerima kemurahan Tuhan, kita pun dipanggil untuk menunjukkan kemurahan kepada orang lain.

Namun, 2 Timotius 3:1-5 menggambarkan bahwa pada akhir zaman karakter manusia justru semakin jauh dari karakter Allah. Manusia akan mencintai dirinya sendiri, menjadi hamba uang, sombong, tidak taat kepada orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak kudus, tidak mengasihi, tidak mau berdamai, tidak dapat mengekang diri, garang, suka mengkhianat, dan lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Bahkan secara lahiriah mereka masih menjalankan ibadah, tetapi kehilangan kuasa yang seharusnya menghasilkan perubahan karakter.

Ada empat sikap "un” yang perlu kita waspadai.

Pertama, unthankful – tidak bersyukur. Dunia dan media sosial sering membuat kita membandingkan hidup dengan orang lain sehingga mudah mengeluh. Padahal banyak hal sederhana yang seharusnya disyukuri: masih dapat melihat matahari, menikmati makanan, kesehatan, keluarga, dan keindahan ciptaan Tuhan. Hal-hal yang sederhana dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika suatu hari kita tidak lagi memilikinya.

Kedua, unholy – tidak kudus. Seseorang dapat tetap beribadah tetapi pada saat yang sama membiarkan dosa tinggal dalam kehidupannya. Jika terus dibiarkan, hati nurani menjadi semakin tidak peka dan godliness atau memudar. Roma 11:22 mengingatkan kita untuk memperhatikan kemurahan sekaligus kekerasan Allah. Hidup orang percaya harus terus diarahkan kepada kebenaran firman Tuhan.

Ketiga, unloving – tidak mengasihi. Kasih yang benar bukan kasih yang diberikan karena seseorang layak menerimanya atau karena kita berharap mendapatkan balasan. Seperti orang Samaria yang murah hati, kita dipanggil untuk mengasihi dan menolong bahkan ketika tidak ada keuntungan bagi diri kita sendiri.

Keempat, unforgiving – tidak mengampuni. Roma 12:19-21 mengajarkan agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Pembalasan adalah hak Tuhan. Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Di sinilah kindness menjadi nyata.

Amsal 21:21 berkata bahwa siapa mengejar kebenaran dan kemurahan akan memperoleh kehidupan, kebenaran, dan kehormatan. Mazmur 23:6 juga berkata, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku.”

Kemurahan yang “mengikuti” kita dapat digambarkan seperti jejak kehidupan. Setiap pertolongan, kasih, pengampunan, dan kebaikan yang kita lakukan meninggalkan jejak. Karena itu, biarlah ke mana pun kita melangkah, orang lain dapat melihat jejak kemurahan Tuhan melalui hidup kita. Hingga suatu hari kita bertemu dengan Tuhan, hidup kita menjadi kesaksian bahwa kita bukan hanya beribadah kepada-Nya, tetapi juga hidup dalam karakter-Nya.

Tuhan Yesus Memberkati.