Bethany Sydney
← Semua khotbah

Minggu, 31 Mei 2026

LIDAH API DAN MABUK ROH

Ps. Albert Tanoni

Transkrip

Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun atas para rasul dalam bentuk lidah-lidah seperti nyala api. Ini bukan kebetulan. Roh Kudus bisa saja menyatakan diri dalam bentuk tangan yang kuat, angin yang besar, atau burung merpati seperti saat Yesus dibaptis. Tetapi pada hari kelahiran gereja, Roh Kudus memilih bentuk lidah api. Artinya jelas: Tuhan ingin menyucikan lidah umat-Nya.

1. Lidah yang bertobat. Lidah api bukan hanya tanda kuasa, tetapi juga peringatan. Api bisa menerangi, menghangatkan, dan memurnikan. Tetapi api juga bisa membakar dan menghancurkan. Begitu juga lidah kita. Yakobus 3:6 berkata, “Lidah pun api.” Dengan lidah, kita bisa membangun iman, menguatkan keluarga, memberkati generasi. Tetapi dengan lidah yang sama, kita juga bisa melukai, memecah, mengutuk, dan menghancurkan.

Karena itu, Pentakosta bukan hanya tentang bahasa roh atau pengalaman rohani yang luar biasa. Pentakosta juga berbicara tentang lidah yang bertobat. Lidah yang dahulu penuh keluhan, kemarahan, gosip, kutuk, dan keputusasaan, sekarang harus menjadi lidah yang penuh iman, pengharapan, pujian, dan berkat.

Yakobus mengingatkan bahwa dengan lidah kita memuji Tuhan, tetapi dengan lidah yang sama kita bisa mengutuk manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Hal ini tidak boleh terjadi. Tidak mungkin dari satu mata air keluar air tawar dan air pahit. Tidak mungkin kita menyanyi memuji Tuhan pada hari Minggu, lalu memakai lidah yang sama untuk menyakiti orang lain pada hari-hari berikutnya.

Namun kabar baiknya, Roh Kudus tidak hanya menegur, tetapi juga menyembuhkan. Banyak orang memiliki lidah yang kasar karena hatinya pernah terluka. Perkataan yang tajam sering lahir dari jiwa yang belum pulih. Karena itu Roh Kudus datang seperti minyak dan anggur: menyembuhkan, memulihkan sukacita, dan membuat kita bisa berkata, “Aku masih punya masa depan. Tuhan sanggup menolongku."

2. Mabuk oleh Roh. Saat para murid dipenuhi Roh, sebagian orang menyindir mereka sedang mabuk anggur. Tetapi Paulus berkata dalam Efesus 5:18, "Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh."

Orang yang mabuk anggur kehilangan kendali. Tetapi orang yang penuh Roh Kudus justru hidupnya dikendalikan oleh Tuhan. Ciri orang penuh Roh bukan hanya berteriak dalam ibadah, tetapi berkata-kata yang membangun, mengucap syukur, rendah hati, dan hidup benar dalam relasi.

Bahkan Paulus langsung menghubungkan kepenuhan Roh dengan rumah tangga. Istri yang penuh Roh hidup dalam ketundukan kepada Tuhan. Suami yang penuh Roh mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat, dengan kasih yang rela berkorban, memperhatikan, melindungi, dan menyegarkan keluarganya.

Jadi, bukti kepenuhan Roh Kudus terlihat dari lidah kita dan kehidupan sehari-hari kita. Biarlah api Roh Kudus membakar kepahitan, ketakutan, keluhan, dan perkataan negatif dari mulut kita. Biarlah lidah kita menjadi alat Tuhan untuk memberkati, membangun, dan menyatakan iman.