Transkrip
Kisah Lazarus dalam Yohanes 11 mengajarkan bahwa Tuhan sering kali bekerja dengan cara yang tidak kita pahami. Ketika Maria dan Marta mengabarkan bahwa Lazarus sakit, Yesus justru sengaja menunda kedatangan-Nya selama dua hari. Penundaan ini bukan karena Yesus tidak mengasihi mereka, melainkan karena Ia sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih besar. Maria dan Marta hanya mengharapkan kesembuhan, tetapi Yesus ingin menyatakan kemuliaan Allah melalui kebangkitan Lazarus. Dari sini kita belajar bahwa penundaan Tuhan bukanlah penolakan, melainkan bagian dari rencana-Nya yang sempurna agar iman kita bertumbuh dan kita semakin mengenal kuasa-Nya. Ada tiga pelajaran utama (3R) dari kebangkitan Lazarus. 1. REMOVE (Singkirkan Batu). Sebelum Yesus membangkitkan Lazarus, Ia memerintahkan orang-orang untuk mengangkat batu penutup kubur. Padahal Yesus mampu memindahkannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki manusia mengambil langkah ketaatan sebelum Ia melakukan mujizat. Batu tersebut melambangkan segala sesuatu yang menghalangi karya Tuhan dalam hidup, seperti ketidakpercayaan, ketakutan, kekecewaan, dosa, kepahitan, kesombongan, dan penundaan ketaatan. Tugas kita adalah menyingkirkan "batu" itu, sedangkan Tuhan yang akan melakukan bagian-Nya melalui kuasa-Nya. 2. RESPOND (Merespons Panggilan Tuhan). Setelah batu disingkirkan, Yesus memanggil Lazarus secara pribadi: "Lazarus, marilah ke luar!" Panggilan Tuhan selalu bersifat pribadi karena Ia mengenal setiap anak-Nya. Walaupun Lazarus masih terikat kain kafan, ia tetap merespons dan keluar dari kubur. Demikian pula setiap orang percaya dipanggil untuk menaati suara Tuhan tanpa menunggu kondisi yang sempurna. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi orang yang mau taat dan melangkah dalam iman. Setiap panggilan Tuhan memang menuntut pengorbanan, namun melalui ketaatan itulah Tuhan memperlengkapi dan menyempurnakan hidup kita. 3. RELEASE (Lepaskan Kain Kafan). Setelah Lazarus hidup kembali, Yesus memerintahkan orang-orang untuk melepaskan kain kafannya. Ini menggambarkan bahwa orang percaya yang telah menerima hidup baru juga harus melepaskan segala "kain kafan" masa lalu, seperti rasa bersalah, trauma, kepahitan, ketakutan, dosa, dan kebiasaan lama. Tuhan juga memakai gereja dan komunitas untuk saling menolong dalam proses pemulihan. Gereja bukan tempat orang sempurna, melainkan tempat orang-orang yang sedang dipulihkan oleh kasih karunia Tuhan. Keluar dari "kubur" kehidupan lama melalui tiga langkah sederhana: menyingkirkan batu penghalang (Remove), merespons panggilan Tuhan dengan iman (Respond), dan melepaskan semua ikatan masa lalu (Release). Tuhan memanggil setiap orang untuk hidup dalam kemerdekaan, mengalami kuasa kebangkitan Kristus, serta berjalan dalam panggilan-Nya sehingga hidup menjadi kesaksian bagi kemuliaan Tuhan.