Bethany Sydney
← Semua khotbah

Minggu, 19 Juli 2026

AKU AKAN MENYERTAI ENGKAU

Ps. Agus Gunawan

Transkrip

Kejadian 31 : 3 mencatat firman Tuhan kepada Yakub: “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.” Janji ini bukan diberikan ketika kehidupan Yakub sedang mudah, tetapi ketika ia berada dalam tekanan. Selama dua puluh tahun ia bekerja kepada Laban. Upahnya diubah sepuluh kali, ia menanggung panas pada siang hari, dingin pada malam hari, kurang tidur, kehilangan ternak, dan perlakuan yang tidak adil. Namun, Yakub tetap berkata, “Allah ayahku menyertai aku.” Ia menyadari bahwa tanpa penyertaan Tuhan, ia pasti pulang dengan tangan kosong. Demikian juga dengan kita. Pelayanan, gereja, keluarga, pekerjaan, usaha, dan pendidikan tidak dapat bertahan hanya dengan kekuatan manusia. Yesus berkata dalam Yohanes 15:5, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Seperti keyboard yang mahal tidak akan berfungsi tanpa terhubung kepada sumber listrik, demikian pula kehidupan kita tidak akan berfungsi sesuai dengan kehendak Tuhan apabila terputus dari hadirat-Nya. Kita membutuhkan hubungan yang terus-menerus dengan Tuhan melalui doa, firman, ketaatan, dan pimpinan Roh Kudus. Bahtera Nuh juga mengajarkan ketergantungan kepada Tuhan. Tuhan memberikan ukuran dan petunjuk pembangunannya dengan sangat teliti, tetapi Alkitab tidak mencatat adanya kemudi untuk mengarahkan bahtera tersebut. Nuh tidak dipanggil untuk mengendalikan badai; ia dipanggil untuk taat, masuk ke dalam bahtera, dan mempercayakan arah perjalanannya kepada Tuhan. Ada waktunya kita tidak mengetahui ke mana kehidupan sedang membawa kita, tetapi kita dapat tetap tenang karena Tuhan memegang kendali. Penyertaan Tuhan juga tidak selalu terlihat oleh mata jasmani. Dalam 2 Raja-raja 6, pelayan Elisa ketakutan ketika melihat kota mereka dikepung pasukan Aram. Namun Elisa berkata, “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka.” Setelah Tuhan membuka matanya, ia melihat gunung penuh dengan kuda dan kereta berapi. Masalahnya bukan karena Tuhan tidak hadir, tetapi karena mata manusia sering kali hanya melihat ancaman. Seperti seorang anak kecil yang tetap tenang di tempat gelap ketika tangan ayahnya menggenggam tangannya, demikianlah iman kita. Kita mungkin tidak melihat wajah Tuhan, tidak memahami jalan-Nya, dan belum melihat jawaban doa, tetapi kita dapat percaya bahwa tangan-Nya tidak pernah melepaskan kita. Selama dua puluh tahun perjalanan Bethany Sydney, kita dapat bersaksi: bukan karena kita kuat, melainkan karena Tuhan setia. Dia menyertai dalam masa mudah maupun sulit. Karena itu, jangan takut menghadapi hari esok. Imanuel—Allah beserta kita. Tuhan yang telah menyertai kita sampai hari ini akan terus berkata, “Aku akan menyertai kamu.” Tuhan Yesus Memberkati.