Bethany Sydney
← Semua khotbah

Minggu, 21 Juni 2026

KECAPLAH DAN LIHATLAH

Ps. Freddy Budisantoso

Transkrip

Mazmur 34 lahir ketika Daud berada dalam masa yang sangat gelap. Ia dikejar Raja Saul yang iri dan takut kehilangan kekuasaan. Dalam pelariannya, Daud bahkan berpura-pura gila di hadapan Raja Akhis agar dapat menyelamatkan diri. Setelah itu, ia bersembunyi di Gua Adulam, tempat yang gelap, lembap, dan penuh ketidakpastian. Di sana berkumpul orang-orang yang sedang kesusahan, terlilit utang, dan sakit hati. Namun, justru dari tempat yang gelap itu lahirlah pujian yang penuh iman.

Pertama, pujilah Tuhan setiap waktu. Daud berkata, “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu.” Ia tidak menunggu keadaan membaik untuk memuji Tuhan. Pujian sejati bukan hanya muncul saat hidup berjalan lancar, tetapi juga ketika kita berada dalam pergumulan. Ibrani 13:15 menyebutnya sebagai korban syukur, yaitu pujian yang tetap dinaikkan ketika perasaan kita belum mendukung. Karena itu, biasakan memakai menit pertama setelah bangun untuk bersyukur atas tiga hal. Ketika kita bermegah dalam Tuhan, kita mengingat bahwa Dia mengampuni, menyembuhkan, menebus, memelihara, dan memperbarui kekuatan kita.

Kedua, Tuhan hadir dalam setiap musim kehidupan. Mazmur 34:19 berkata bahwa Tuhan dekat kepada orang yang patah hati. Daud tidak hanya menghadapi musuh dari luar, tetapi juga luka dari orang terdekat. Namun, Tuhan memakai proses panjang itu untuk membentuk karakternya. Mengalahkan Goliat mungkin terjadi dalam satu hari, tetapi menjadi seorang Daud membutuhkan waktu bertahun-tahun. Kemenangan sejati bukan sekadar keluar dari masalah, melainkan tetap taat, tidak pahit, dan mampu mengampuni. Kemalangan orang benar memang banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya. Ia mendengar seruan umat-Nya, bahkan malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang yang takut akan Dia. Karena itu, lepaskan kepahitan. Menyimpan kebencian seperti meminum racun sambil berharap orang lain yang mati.

Ketiga, kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan. Ayat ini tidak hanya berkata, “Ketahuilah,” tetapi “Kecaplah.” Tuhan ingin kita mengalami kebaikan-Nya secara pribadi. Mendengar orang menjelaskan makanan lezat tidak akan menghilangkan rasa lapar; kita harus mencicipinya sendiri. Demikian juga, kita mengalami Tuhan melalui doa, pembacaan firman, penyembahan, dan hubungan yang intim dengan-Nya. Catatlah setiap pertolongan, kesembuhan, pemulihan, dan terobosan yang Tuhan kerjakan. Catatan itu akan menjadi bukti saat keraguan datang dan menjadi kesaksian bagi orang lain.

Kecaplah terlebih dahulu, lalu lihatlah dan ceritakanlah. Kesaksian yang paling kuat lahir dari pengalaman pribadi bersama Tuhan. Karena itu, jangan pulang dengan kehidupan rohani yang sama. Bangunlah keintiman dengan Tuhan, pujilah Dia dalam segala keadaan, percayalah pada kehadiran-Nya, dan jadilah garam serta terang yang membagikan kebaikan-Nya kepada dunia.