Transkrip
Imanuel berarti “Allah menyertai kita.” Nama ini pertama kali dinyatakan melalui Nabi Yesaya ketika Raja Ahas dan bangsa Yehuda sedang menghadapi ancaman besar dari Aram dan Israel Utara. Di tengah ketakutan mereka, Tuhan berkata, “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang. Janganlah takut dan janganlah hatimu kecut.” Musuh yang terlihat besar di mata manusia hanyalah “dua puntung kayu api yang berasap” di hadapan Tuhan. Janji Imanuel menyatakan bahwa Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya. Namun, penyertaan Tuhan bukanlah alasan untuk hidup dalam dosa. Kisah Ehud memberikan tiga pelajaran penting. 1. Dosa dan kedagingan dapat mengubah kemenangan masa lalu menjadi kekalahan masa kini. Yerikho adalah kota kemenangan pertama Israel di Tanah Perjanjian. Kota pohon kurma itu menjadi lambang mukjizat dan janji Tuhan yang digenapi. Namun, ketika Israel kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, Eglon, raja Moab, menguasai mereka selama delapan belas tahun. Kota yang dahulu menjadi tempat kemenangan kini diduduki musuh. Kemenangan masa lalu tidak menjamin kemenangan hari ini apabila kita mulai berkompromi. Pernikahan yang merupakan jawaban doa dapat hancur karena ketidaksetiaan. Berkat keuangan dapat lenyap karena perjudian dan cinta uang. Seseorang yang pernah bebas dari kecanduan dapat jatuh kembali karena pergaulan yang salah. Sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan, dan rubah-rubah kecil dapat merusak kebun anggur. Karena itu, jangan bermain-main dengan dosa. Jagalah hidup supaya tidak dicemarkan oleh dunia. 2. Bersama Tuhan, kelemahan dapat menjadi kekuatan. Ketika Israel berseru, Tuhan membangkitkan Ehud bin Gera, seorang Benyamin yang kidal. Suku Benyamin dikenal memiliki pejuang yang terampil menggunakan tangan kanan maupun tangan kiri. Apa yang mungkin dianggap tidak biasa pada Ehud justru dipakai Tuhan menjadi keunggulan. Ehud menyembunyikan pedang bermata dua di paha kanannya, lalu menghunusnya dengan tangan kiri. Melalui keberanian dan strategi Ehud, Eglon dikalahkan, sepuluh ribu orang Moab ditundukkan, dan negeri itu aman selama delapan puluh tahun. Jangan meremehkan kelemahanmu. Tuhan sanggup memakai keterbatasan, latar belakang, kegagalan, bahkan hal yang membuat kita minder, menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Kuasa Tuhan menjadi sempurna di dalam kelemahan. 3. Kedagingan harus dikalahkan dengan Firman Tuhan. Pedang Ehud yang bermata dua mengingatkan kita kepada Ibrani 4:12: Firman Allah hidup, kuat, dan lebih tajam daripada pedang bermata dua. Kedagingan tidak dapat dikalahkan hanya dengan niat baik, tetapi dengan Firman yang disimpan di dalam hati. Mazmur 119:11 berkata, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Tuhan menyertai kita. Marilah menjaga hidup tetap kudus, menyerahkan kelemahan kepada Tuhan, dan memakai pedang Firman untuk mematikan kedagingan. Tuhan sanggup mengubah kekalahan menjadi kemenangan dan kelemahan menjadi kesaksian. Amin. Tuhan Yesus Memberkati.