Transkrip
Dalam perjalanan menuju Yerusalem melalui perbatasan Samaria dan Galilea, Yesus bertemu sepuluh orang penderita kusta yang hidup terasing dari masyarakat. Mereka berdiri dari kejauhan dan berteriak, "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" (Lukas 17:13)
Menariknya, mereka tidak secara langsung meminta kesembuhan, tetapi hanya memohon belas kasihan dan mereka mengakui Yesus sebagai Guru yang memiliki otoritas tertinggi dan menaruh harapan penuh kepada-Nya.
Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka, melainkan memerintahkan mereka untuk pergi memperlihatkan diri kepada imamimam. Pada saat itu mereka semua masih menderita kusta, sehingga perintah tersebut tampak tidak masuk akal.
Alkitab mencatat bahwa ketika mereka sedang berjalan, mereka menjadi tahir. Dari sini kita belajar bahwa mukjizat dapat terjadi di tengah proses ketaatan. Iman bukanlah baru percaya ketika hasil sudah terlihat, tetapi tetap melangkah meskipun keadaan belum berubah. Tuhan tetap bekerja sekalipun kita belum melihat tanda-tandanya.
Dari sepuluh orang yang disembuhkan, hanya satu yang kembali kepada Yesus untuk memuliakan Allah dan mengucap syukur. Orang ini adalah seorang Samaria, suatu komunitas yang dipandang rendah oleh orang Yahudi.
Kesembilan orang lainnya kemungkinan tetap bersyukur di dalam hati, tetapi tidak sampai membuat mereka untuk kembali kepada Sang Pemberi mukjizat. Ada perbedaan antara merasa bersyukur dan mengungkapkan rasa syukur. Hati yang benar-benar mengenal Yesus akan kembali kepada-Nya untuk memuliakan-Nya.
Kisah ini bukan hanya berbicara tentang rasa syukur, tetapi juga tentang pengenalan akan Yesus. Kesembilan orang melanjutkan perjalanan mereka kepada imam-imam sesuai tradisi hukum Taurat, sedangkan satu orang Samaria menyadari bahwa Imam yang sejati ada di belakangnya, yaitu Yesus sendiri. Ia memilih kembali kepada Kristus, berbeda dengan sembilan kawannya yang lain. Hal ini mengingatkan setiap orang percaya agar tidak hanya mengikuti tradisi atau kebiasaan rohani, tetapi agar memiliki hubungan yang hidup dan intim dengan Yesus.
Ketika Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau,” kata “menyelamatkan” berasal dari bahasa Yunani sozo, yang berarti selain menyelamatkan juga menyembuhkan dan memulihkan secara utuh ke kondisi semula, baik jasmani maupun rohani.
Sepuluh orang menerima kesembuhan fisik, tetapi hanya satu yang mengalami keselamatan rohani karena ia kembali kepada Yesus dalam iman dan ucapan syukur.
Sebagai pengikut Kristus, kita harus terus berjalan dalam ketaatan dan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja di tengah proses. Jangan sampai kita menjadi seperti sembilan orang yang hanya mau menikmati berkat.
Setiap orang percaya dipanggil menjadi seperti satu orang Samaria yang kembali kepada Yesus dengan hati yang penuh syukur. Jangan sampai berkat Tuhan membuat kita melupakan Sang Pemberi berkat.
Iman yang sejati selalu diwujudkan melalui ketaatan, penyembahan dan ucapan syukur kepada Kristus, yang memberikan pemulihan dan keselamatan bagi setiap orang yang datang kepada-Nya.
Tuhan Yesus memberkati.