Transkrip
Hidup sebagai orang percaya adalah sebuah perjuangan. Namun, Firman Tuhan berkata bahwa senjata kita bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng-benteng. Salah satu benteng terbesar yang harus dikalahkan berada di dalam pikiran. Karena itu Paulus berkata, “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” 1. Menawan Segala Pikiran. Amsal 23:7 berkata, “Seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia.” Apa yang terus-menerus kita pikirkan akan memengaruhi perasaan, perkataan, keputusan, dan tindakan kita. Jika pikiran dipenuhi ketakutan, kita akan sulit berjalan dengan iman. Jika dipenuhi kepahitan, kita akan mudah mencurigai dan menghakimi orang lain. Ayub berkata, “Yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku” (Ayub 3:25). Ayat ini bukan berarti setiap ketakutan pasti menjadi kenyataan, tetapi menunjukkan betapa beratnya hidup ketika pikiran dikuasai kecemasan. Jangan menderita karena sesuatu yang bahkan belum terjadi. Mazmur 23:5 berkata, “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak.” Gambaran ini mengingatkan bahwa Tuhan, Gembala yang baik, menjaga kepala dan pikiran kita. Pikiran negatif mungkin datang, tetapi kita tidak harus menerima, memelihara, dan mempercayainya. 2. Menaklukkan Pikiran kepada Kristus. Menawan pikiran tidak cukup; pikiran itu harus ditaklukkan kepada Kristus dan diperiksa berdasarkan Firman Tuhan. 1 Korintus 2:16 berkata bahwa kita memiliki pikiran Kristus. Filipi 2:5 mengajarkan agar kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus. Filipi 4:8 memberikan penyaring bagi pikiran: apakah pikiran itu benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, penuh kebajikan, dan patut dipuji? Tidak semua yang kita pikirkan adalah kebenaran. Kita mungkin sedang mengalami masalah, tetapi itu tidak berarti Tuhan meninggalkan kita. Abraham memberikan teladan iman. Ketika diminta mempersembahkan Ishak, ia berpikir bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati (Ibrani 11:17–19). Abraham tidak mengabaikan kenyataan, tetapi memandangnya berdasarkan kuasa dan kesetiaan Allah. 3. Merenungkan dan Memperkatakan Firman. Yosua 1:8 mengajarkan agar Firman Tuhan direnungkan siang dan malam, diperkatakan, dan dilakukan. Pikiran yang salah tidak cukup hanya dibuang; pikiran itu harus diganti dengan kebenaran Firman. Ketika pikiran berkata, “Aku tidak sanggup,” jawablah, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Kristus.” Ketika pikiran berkata, “Tidak ada jalan,” ingatlah bahwa Yesus adalah jalan. Ketika ketakutan berkata, “Engkau sendirian,” percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Karena itu, kenali pikiran yang salah, ujilah dengan Firman, tolak kebohongannya, dan gantikan dengan janji Tuhan. Saat pikiran kita tunduk kepada Kristus, damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita. Jangan izinkan pikiran liar menentukan masa depan kita. Biarlah Kristus dan Firman-Nya memimpin seluruh kehidupan kita. Amin.