Bethany Sydney
← Semua khotbah

Minggu, 16 Agustus 2026

WORSHIP IS...

Ps. Redo Daeng Badjie

Transkrip

Ketika kita berbicara tentang penyembahan, sering kali pikiran kita langsung tertuju kepada lagu, musik, atau suasana ibadah. Padahal penyembahan jauh lebih dalam daripada sekadar bernyanyi. Dalam Kejadian 22, ketika Abraham hendak mempersembahkan Ishak, ia berkata bahwa ia akan pergi untuk menyembah Tuhan. Dari sini kita melihat bahwa penyembahan berbicara tentang ketaatan dan penyerahan hati kepada Tuhan. Abraham tidak hanya membawa sebuah lagu, tetapi membawa sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Karena itu, bernyanyi memang bisa menjadi sarana terbaik untuk menyembah ketika kata-kata tidak lagi cukup untuk mengungkapkan isi hati. Namun yang terutama Tuhan cari bukanlah suara yang indah, melainkan hati yang berkenan kepada-Nya. Tuhan juga tidak terutama melihat besar atau kecilnya sebuah gereja, banyak atau sedikitnya jemaat, atau megah tidaknya sebuah gedung. Gereja adalah umat Tuhan, dan Amanat Agung adalah menjadikan semua bangsa murid-Nya. Karena itu gereja harus kembali kepada pemulihan Pondok Daud, yaitu kehidupan yang menjadikan hadirat Tuhan sebagai pusat. Yang Tuhan rindukan bukan kemegahan luar, tetapi umat yang hidup dekat dengan-Nya. Tuhan pun tidak mencari orang yang terlihat sempurna secara agamawi. Tuhan mencari hati yang jujur dan mau bertobat. Lihatlah wanita Samaria. Masa lalunya rusak, tetapi ketika ia berjumpa dengan Yesus, Tuhan tidak membuangnya. Ia justru dipulihkan dan kemudian menjadi saksi bagi banyak orang. Yesaya 42:3 berkata: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya." Artinya, Tuhan tidak membuang kehidupan yang rusak. Dia sanggup memulihkan dan memakai kembali hidup seseorang untuk kemuliaan-Nya. Di sinilah kita memahami bahwa kuasa penyembahan bukan hanya menghasilkan mukjizat secara lahiriah. Kuasa penyembahan yang terbesar adalah ketika hati kita diubahkan menjadi semakin serupa dengan Yesus yang kita sembah. Daud memahami hal ini. Dalam Mazmur 27, ia sedang berada dalam tekanan, ketakutan, dan ancaman musuh. Tetapi satu hal yang paling ia rindukan adalah tinggal dalam hadirat Tuhan. Mazmur 27:4 berkata: “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku." Daud memilih mengarahkan energinya kepada penyembahan, bukan kepada ketakutannya. Bahkan dalam kesulitan ia tetap mau menyanyi, bermazmur, dan mempersembahkan korban dengan sorak-sorai kepada Tuhan. Kemudian Daud berkata dalam Mazmur 27:10: “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." Manusia bisa mengecewakan dan meninggalkan kita, tetapi Tuhan tetap setia. Penyembahan yang sejati bukan hanya mengubah keadaan, tetapi mengubah hati kita menjadi semakin serupa dengan Yesus. Tuhan Yesus Memberkati.