Transkrip
Hakim-Hakim 17:6 "Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”
Kisah Mika dalam Hakim-Hakim 17 menggambarkan keadaan rohani bangsa Israel ketika Tuhan tidak lagi ditempatkan sebagai Raja dalam kehidupan mereka. Kalimat "tidak ada raja di Israel" bukan hanya berbicara tentang tidak adanya pemimpin politik, tetapi juga menunjukkan bahwa manusia tidak lagi mengakui Tuhan sebagai Raja. Akibatnya, setiap orang menentukan sendiri apa yang dianggap benar.
Mika sebenarnya terlihat sebagai orang yang rohani. Ia mempunyai tempat ibadah, membuat efod dan terafim, bahkan mengangkat imam bagi dirinya sendiri. Masalahnya, semua itu dilakukan menurut caranya sendiri, bukan menurut ketetapan Tuhan. Ia masih memakai nama Tuhan, tetapi membangun sistem ibadah berdasarkan keinginannya sendiri.
1. IBADAH YANG TERLIHAT BENAR BELUM TENTU BENAR Bahaya terbesar dalam kehidupan rohani bukan hanya ketika seseorang meninggalkan Tuhan, tetapi ketika seseorang masih beribadah kepada Tuhan namun mulai memilih bagian firman yang sesuai dengan keinginannya sendiri.
Kita senang mendengar firman tentang berkat, kemenangan, pemulihan dan keberhasilan, tetapi bagaimana ketika firman Tuhan menegur dosa, meminta kita mengampuni, bertobat, menyangkal diri, atau meninggalkan kebiasaan yang salah?
2. TUHAN HARUS MENJADI PUSAT Firman Tuhan bukan seperti makanan prasmanan yang boleh kita pilih sesuka hati. Kalau kita hanya menerima firman yang “manis” tetapi menolak firman yang mengoreksi, kehidupan rohani kita tidak akan sehat.
Dunia berkata, “Ikuti hatimu,” “Yang penting kamu bahagia,” tetapi Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda. Di taman Getsemani Yesus berkata "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Kekristenan bukan tentang meminta Tuhan mengikuti rencana kita, tetapi menyerahkan hidup agar kita mengikuti rencana Tuhan.
3. JADILAH PELAKU FIRMAN Yakobus 2:17 berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Kehidupan kita dikenal melalui buahnya. Kasih terlihat ketika kita menghadapi orang yang sulit dikasihi. Kesabaran terlihat ketika kita berada dalam tekanan. Sukacita terlihat ketika keadaan tidak menyenangkan.
Sering kali justru melalui musim sulit, Tuhan sedang menumbuhkan buah Roh dalam kehidupan kita.
Menurut Yakobus 1:23-24, firman Tuhan seperti cermin, Jangan memakai firman sebagai kaca pembesar untuk mencari kesalahan orang lain. Gunakan firman sebagai cermin dan bertanyalah:
"Tuhan, apa yang perlu Engkau ubah dalam hidupku?"
Pada akhirnya pertanyaannya adalah: SIAPAKAH TUHANMU?
Siapa yang duduk di atas takhta kehidupan kita: Tuhan atau ego kita sendiri?
Penyembahan sejati bukan hanya mengangkat tangan, menyanyi atau menari, tapi penyembah sejati menyembah dalam roh dan kebenaran.
Jangan hanya berkata, “Tuhan, berkati rencanaku. Tapi mulai belajar berkata: "Tuhan, tunjukkan rencana-Mu. Ubah hatiku supaya sesuai dengan kehendak-Mu.”
Karena Tuhan tidak hanya mencari ibadah yang terlihat benar. Tuhan mencari hati dan kehidupan yang benar di hadapan-Nya.
Tuhan Yesus Memberkati.