Bethany Sydney
← Semua pesan

Minggu, 22 Maret 2026

KEBIASAAN

Oleh Jimmy Tjandra

Hi, fam, senang bisa ketemu lagi dengan saudara dan saudari sekalian. Sebelumnya saya ingin mengaku terlebih dahulu bahwa dulu saya adalah seorang pengguna jalan yang ugal-ugalan dan jarang taat akan aturan lalu lintas yang berlaku di Surabaya. Asal bisa cepat sampai di tujuan, maka jalan itulah yang saya tempuh sekalipun itu berarti melanggar aturan. Habis mau bagaimana lagi, semua orang melakukan hal yang sama.

Ketika mengemudi di Sydney, saya mengalami culture shock. Saya terkaget-kaget melihat begitu teraturnya lalu lintas di Sydney bila dibandingkan dengan Surabaya. Hmmm, sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa mereka yang terkaget-kaget melihat cara saya mengemudi. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai beradaptasi dengan lalu lintas di Sydney. Saya mulai menggunakan lampu sign sebelum belok atau pindah jalur, saya juga memberi jalan kepada pejalan kaki, dan ketika lampu kuning menyala di perempatan yang berarti injak gas lebih dalam di Surabaya, saya menginjak rem.

Terus terang saja, ini adalah kebiasaan baru dan baik yang tidak akan pernah saya dapatkan kalau saya tetap mengemudi di Surabaya. Jangan salah paham, Surabaya adalah kota tercinta bagi saya dan saya bukan sedang menyebarkan kabar busuk tentangnya. Poin yang mau saya sampaikan disini adalah bahwa kita tidak bisa mengembangkan kebiasaan yang baik kalau kita tetap hidup di lingkungan yang tidak mendukung. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik,” begitu kata Paulus dalam 1 Korintus 15:33.

Jadi begitulah, setelah 2 tahun membangun kebiasaan baik dengan mengarungi lalu lintas Sydney, saya mudik dan mengemudi di Surabaya lagi dan kali ini saya agak kebingungan. Ketika saya berhenti karena lampu menyala kuning di perempatan, saya dapat melihat mobil belakang mengerem dengan mendadak sambil membunyikan klakson dengan segenap hati dan kekuatannya. Ketika saya menyalakan lampu sign untuk pindah jalur, lagi-lagi saya dengar klakson dari samping. Alih-alih diberi jalan untuk berpindah jalur, jalan saya malah dibuntu. Saya lupa akan “aturan-aturan” yang berlaku di lalu lintas Surabaya. Ternyata, kebiasaan baru saya yang sebenarnya baik itu, tidak cocok dengan lalu lintas Surabaya. Saya menjadi seorang pengemudi yang aneh dan menjengkelkan bagi pengguna jalan lainnya, justru karena melakukan hal yang baik.

Prinsip ini rupanya bukan hanya berlaku untuk mengarungi lalu lintas saja, tapi juga dalam mengarungi perjalanan hidup. Dalam kehidupan, berubah menjadi lebih baik juga belum tentu membawa akibat yang baik pula. Kita bisa dipandang sebagai orang yang “aneh-aneh” saja. Bahkan konsekuensi yang lebih serius dari sekedar dicap orang aneh bisa saja terjadi dalam hidup kita. Yesaya 59:15 berkata, “Dengan demikian kebenaran telah hilang, dan siapa yang menjauhi kejahatan, ia menjadi korban rampasan. Tetapi Tuhan melihatnya, dan adalah jahat di mata-Nya bahwa tidak ada hukum.” Wah, ternyata sejak jaman Yesaya, mengubah kebiasaan menjadi baik bisa membuat kita justru menjadi korban kejahatan.

Namun demikian, saya tetap mendorong agar kita semua tetap berjuang untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Mengapa? Jawabannya tetap ada di Yesaya 59:15 tadi, yaitu bahwa ternyata Tuhan melihat! Kalau kita tetap tidak mengubah cara hidup kita, maka Tuhan melihatnya sebagai kejahatan di mataNya. Sekarang begini saja, baik di mata manusia atau baik di mata Tuhan? Aneh di mata manusia atau jahat di mata Tuhan? Mana yang Anda pilih, my friend?

Tuhan Yesus Memberkati.