Bethany Sydney
← Semua pesan

Minggu, 21 Juni 2026

PERKATAAN YANG PALING MENJENGKELKAN

Oleh Jimmy Tjandra

Kalau ada yang bertanya kepada kita, perkataan apa yang paling menjengkelkan? Saya yakin akan ada banyak jawaban yang berbeda-beda. Maklum, masing-masing pribadi tentu punya pendapat sendiri. Kalau Anda bertanya kepada saya dan saya harus menjawab dengan sejujur-jujurnya, maka maafkan kedagingan saya kalau saya menjawab bahwa perkataan yang paling menjengkelkan adalah perkataan yang benar. Dan ternyata, jawaban saya itu dicatat juga dalam Alkitab. Untuk mendukung pernyataan saya itu, marilah kita mengintip satu momen kehidupan yang terjadi pada Yesus.

"Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham,” begitu kata Yesus yang dicatat dalam Yohanes 8:40. Kebenaran yang dikatakan Yesus, rupanya menjadi perkataan yang sedemikian menjengkelkan bagi orang Yahudi di jaman itu (dan bahkan sampai sekarang) sehingga mereka berusaha membunuh Dia!

Saat ini kita tentu mau menerima perkataan Yesus karena dua sebab. Pertama adalah karena kita percaya bahwa Dialah Tuhan dan Allah kita. Sedangkan di mata orang Yahudi saat itu, Yesus adalah manusia biasa. Kalau dalam bahasa Surabaya, Yesus adalah sekedar arek Nazaret. Bahkan tidak sedikit yang melihat Yesus sebagai seorang tukang kayu yang miskin, tidak pernah belajar agama, dan cenderung sok pintar. Sulitnya, ketika Yesus mengatakan kebenaran, yaitu kebenaran tentang isi hati mereka yang sesungguhnya, tentang kemunafikan mereka, tentang keserakahan mereka, dan lain sejenisnya, mereka tidak bisa mengelak. Hati mereka mengakui bahwa Dia benar, tapi daging mereka serasa ditusuk sate. Maaf, maksud saya ditusuk duri. Yah, beginilah kalau menulis dalam kondisi lapar ... Dan sebab yang kedua, yang mungkin adalah penyebab utamanya, karena kita pikir Tuhan Yesus bukan sedang berbicara kepada dan/atau tentang kita.

Tapi bagaimana kalau apa yang dikatakan Yesus saat itu ternyata juga banyak terjadi pada kita? Hanya saya sendiri atau banyak di antara kita yang menjadi jengkel ketika ada orang yang mengatakan kebenaran tentang isi hati kita yang sesungguhnya? Kita mungkin masih membaca Alkitab ketika FirmanNya mengatakan kebenaran tentang kita. Karena kita membaca Alkitab sendirian dan di dalam ruang tertutup. Kita mungkin masih ke Gereja ketika kotbah yang disampaikan Pak Han Han menempelak kita. Karena hanya hati kita sendiri yang tahu, dan kotbah tersebut didengar oleh seluruh jemaat yang tidak tertidur. Tapi apakah kita masih menghargai orang biasa, seperti tukang kayu, kalau perkataannya mengandung kebenaran yang menyakitkan hati kita? Bagaimana kalau ada orang yang posisinya di bawah kita memprotes kita dan dia benar? Bagaimana kalau ada orang yang mengatakan sesuatu yang tepat mengena pada kebusukan hati kita? Akankah koreksi yang disampaikan itu membuat kita sadar dan bertobat, atau justru membuat kita jengkel kepada orang tersebut? Kita mungkin tidak membunuhnya, tapi menekan tombol unfriend atau menyimpan nomor teleponnya dengan nama Si Tengil.

Sejujurnya, siapapun yang mengucapkannya, kebenaran adalah kebenaran. Kebenaran tidak akan pernah membela dan memihak kita atau pihak manapun. Kalau mau dibela kebenaran, maka kitalah yang harus berada di pihaknya. Pertanyaannya, kalau kebenaran itu ada di pihak yang menjengkelkan, apakah kita memiliki hati yang cukup rendah untuk menerimanya? Atau jangan-jangan, my friend, orang-orang Yahudi yang munafik di sekeliling Yesus itu sebenarnya menggambarkan kita?

Tuhan Yesus Memberkati.