Bethany Sydney
← Semua pesan

Minggu, 28 Juni 2026

DESAIN HIDUP

Oleh Jimmy Tjandra

Pernahkah Anda mendengar percobaan yang dilakukan oleh seorang Guru di depan kelas? Jadi Guru itu menyuruh murid-muridnya memegang sebuah kerikil yang sangat ringan. 2-3 menit di awal semua murid merasa percobaan ini sangat aneh dan tidak berguna. Tapi setelah 30 menit, para murid mulai merasakan bahwa tangan mereka yang menggenggam kerikil ringan tadi, lama-lama menjadi terasa berat. Satu per satu mulai menurunkan tangannya karena kaku. Padahal, beban yang mereka pegang tidak ditambah sama sekali! Setelah mereka semua menyerah, si Guru menjelaskan bahwa yang membuat tangan mereka kaku bukanlah kerikilnya, tapi karena tangan memang bukan didesain untuk menggenggam benda dalam jangka waktu yang lama. “Nah, seperti tangan," begitu lanjut si Guru,"hati kita juga tidak didesain untuk menyimpan beban. Sekecil apapun beban yang kita simpan dalam hati, lama-lama hati kita juga akan menjadi kaku.” Moral of the story dari percobaan yang dilakukan Guru tadi adalah kita jangan menyimpan beban dalam hati kita, sekecil apapun beban itu. Ah, begitu rupanya, para murid yang tadinya mulai jengkel, sekarang jadi paham. Mereka puas dengan percobaan Guru mereka dan kemudian hidup berbahagia selama-lamanya. Hmm, tapi bukan itu yang terjadi.

Kita memang sering mengartikan kerikil kecil itu sebagai beban dan selanjutnya beban itu kita terjemahkan sebagai masalah, dosa, dan lain sejenisnya. Ya, itu memang benar, jangan menyimpan masalah ataupun dosa. Sebaliknya, sampaikan apapun ganjalan yang ada dalam hati Anda kepadaNya melalui doa. Saya setuju dengan itu. Tapi bukan hanya itu. Maksud saya, bagaimana dengan berkat? Bagaimana dengan kasih Allah? Saya harus meminta maaf sebelumnya kalau saya akan mengecewakan Anda, tapi harus saya katakan bahwa hati dan hidup kita juga tidak didesain untuk menyimpan berkat atau kasih Allah sekalipun. Ya, saya akui bahwa ini adalah kabar buruk bagi orang-orang yang sangat mencintai berkat, yang tangannya begitu erat menggenggam segala kebaikan Allah. Tapi tadi saya sudah minta maaf, kan?

Dalam Matius 10:8, Yesus berkata,”Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Jadi saat itu Yesus sedang mengutus ke 12 muridNya untuk memberitakan kabar tentang Kerajaan Allah. Dan untuk keperluan itu, Yesus memperlengkapi mereka dengan kuasa yang luar biasa. Kuasa yang diberikan Yesus itu bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan kepada penduduk desa atau kota yang akan mereka datangi. Prinsip yang berlaku dalam ayat tadi adalah freely you receive, freely you shall give. Dan prinsip ini juga berlaku untuk kebaikan Allah yang lain dalam hidup kita. Ya, termasuk berkat alias uang alias harta yang sudah Allah berikan dalam hidup kita. Ya, saya tahu, saya tahu, surat redaksi ini menjadi semakin menjengkelkan. Tapi, sekali lagi, tadi saya sudah minta maaf, kan?

Tujuan utama dari ayat tadi bukanlah supaya para murid bisa pamer kuasa, melainkan untuk menyatakan kemuliaan Allah kepada orang lain. Ah, tentu saja Anda tidak bermasalah dengan prinsip itu, karena Anda sudah tahu bahwa fokus hidup ini memang adalah untuk memuliakan Allah. Dan yang termasuk dalam kategori “hidup" adalah berkat. Allah memberkati kita supaya kita membawa kemuliaan bagiNya. Sekali lagi saya ingatkan, fam, tadi saya sudah minta maaf, lho.

Tuhan Yesus Memberkati.