Bethany Sydney
← Semua pesan

Minggu, 7 Juni 2026

CINTANYA YESUS

Oleh Jimmy Tjandra

Fam, saya tidak tahu sudah berapa lama Anda telah meninggalkan Indonesia. Saya ingin mengajak fam sekalian untuk sedikit bernostalgia. Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini ada sebuah lagu yang bermain dalam pikiran saya. Lebih tepatnya, sebagian dari lagu itu. Bukan lagu rohani, melainkan lagu dari grup Dewa yang berjudul Pupus. Lirik yang terus bergema di telinga saya itu begini “Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, meski kau takkan pernah tahu”. Ini memang lagu pop tentang percintaan dan saya yakin pengarang lagu itu bahkan bukan orang Kristen, tapi saya mendapat kesan bahwa lagu itu sebenarnya juga menceritakan tentang hubungan Yesus dengan kita. Apakah Anda tahu bahwa Yesus sangat mencintai kita? Tentu saja kita sudah tahu itu sejak duduk di Sekolah Minggu. Jesus loves me, this I know, for the Bible tells me so, begitu lagu yang kita nyanyikan sejak dulu.

Namun demikian, lagu pop yang saya sebutkan tadi membuat saya berpikir apakah saya sungguh tahu bahwa Yesus mencintai saya? Setelah saya pikir dan renungkan, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa sejujurnya, saya memang tidak bisa mengerti besarnya cinta yang Dia miliki untuk saya. Apa yang saya pikir saya ketahui tentang cintanya kepada saya, sesungguhnya saya tidak tahu. Pertanyaannya begini, kalau saya tidak tahu, apakah itu akan membuat cintaNya kepada saya menjadi berkurang? Apakah Dia hanya mencintai saya sebesar apa yang saya tahu tentang cintaNya?

Mazmur 103:11 berkata,”Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia.” Siapa yang tahu setinggi apa langit di atas bumi? Sekarang ini kita memiliki ilmu pengetahuan yang menunjukkan bahwa sesungguhnya langit itu tidak ada. Dengan demikian, cintanya kepada kita itu sesungguhnya juga tidak ada batasnya. Bahkan nyawaNya sendiri telah Dia berikan demi kita! Bukankah itu adalah sesuatu yang super wow? Dan cinta yang tak terbatas itu Dia berikan kepada orang-orang yang takut akan Dia, bukan kepada orang-orang yang tahu.

Sampai disini, saya yakin bahwa Anda semua telah mengerti bahwa yang dimaksudkan dengan takut itu bukan seperti kita takut menyeberang sungai di atas seutas tali atau seperti seorang wanita yang takut karena ada cicak di ujung ruangan. Takut yang dimaksudkan disini adalah menghormati Dia. Ya, sekalipun kita tidak tahu apalagi mengerti besarnya kasihNya, atau kebesaran dan keagunganNya secara umum. Kita menghormati Dia dengan iman percaya kita kepadaNya. 100%! Bagaimana kalau iman kita kepadaNya itu membawa kita masuk ke dalam kesusahan dan penganiayaan? Itu sudah terjadi sejak awal. Lukas mencatatnya dalam Kisah Para Rasul 5:40-41,”Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” Mereka bukan saja bertahan dalam penganiayaan, tapi justru malah bergembira karenanya!

Iman kita kepadaNya mungkin saja bisa membawa kita masuk dalam kesusahan, tapi itu hanya di bumi ini dan bersifat sementara saja. Pada akhirnya, sekalipun kita tidak akan pernah tahu, marilah kita meletakkan iman di atas dasar yang kuat dan kekal ini: Yesus mencintaimu, my friend, lebih dari yang kau tahu.