Bethany Sydney
← Semua pesan

Minggu, 9 Agustus 2026

PERSEMBAHAN

Oleh Jimmy Tjandra

Sebenarnya ini adalah beban yang sangat berat buat saya untuk menulis surat redaksi dengan judul di atas. Bukannya kenapa, saya kuatir dengan keamanan saya, jangan-jangan saya bakal dilempar batu kalau Anda bertemu saya di Gereja. Namun bagaimanapun juga, saya memberanikan diri untuk menuliskannya. Ini karena di Bethany Sydney tidak ada kantong persembahan yang diedarkan, jadi persembahan yang diberikan adalah atas kesadaran masing-masing jemaat. Wah, ini sepertinya adalah kabar gembira, bukan begitu?

Jadi begini, hanya karena Gereja kita tidak "mengharuskan” memberi persembahan, jangan jadi senang karena kita merasa tidak perlu keluar uang dan bisa “menghemat biaya”. Kalau kita membaca Imamat 26:31, kita akan mendapati hukuman yang diberikan Tuhan atas bangsa Israel," Kota-kotamu akan Kubuat menjadi reruntuhan dan tempat-tempat kudusmu akan Kurusakkan dan Aku tidak mau lagi menghirup bau persembahanmu yang menyenangkan.” Tuhan tidak mau lagi menerima persembahan dari umatNya. Saya sangat menyarankan agar Anda juga menilik ayat-ayat sebelumnya mulai dari ayat 14, karena Anda akan mendapati bahwa Tuhan melipat gandakan hukuman 7 kali lebih berat sampai 4 kali, yaitu di ayat 18, 21, 23, dan 28. Artinya, hukuman yang disebutkan dalam ayat 31 termasuk dalam golongan hukuman terakhir dan terberat yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel. Termasuk di dalam golongan hukuman terberat itu adalah Allah menolak persembahan kita!

Perpuluhan juga sama. Banyak orang yang tidak mau memberikan perpuluhan dengan berbagai dasar pemikiran. “Perpuluhan kan Perjanjian Lama, sedangkan kita hidup di Perjanjian Baru. Jadi tidak berlaku lagi,” begitu salah satu dalih yang umum. Artinya, perpuluhan sudah tidak perlu lagi dilakukan. Benarkah demikian? Begini saja, sebagai orang Kristen, bukankah kita percaya kepada apa yang dikatakan Yesus? Matius 23:23 mencatat perkataan Yesus, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Apa yang dimaksudkan Yesus dengan yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan? Artinya, persepuluhan dari selasih dan kawan-kawannya itu memang harus dilakukan, tapi yang lain jangan diabaikan, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Nah, Anda bisa melihat sendiri bahwa Yesus tidak membatalkan perpuluhan, bukan?

Saya mengerti bahwa perpuluhan ini adalah satu hal yang menjadi bahan cemoohan karena begitu banyaknya Gereja yang megah dan juga glamornya hidup para hamba Tuhan kadang hampir tidak bisa dibedakan dengan artis. Namun ketika saya memberi, saya bukan memberi untuk Gereja ataupun untuk hamba Tuhan. Saya hanya melakukan bagian saya memberi untuk Tuhan, melalui Gereja dimana saya berjemaat. Bagaimana Gereja mengelola persembahan jemaat, itu adalah urusan dan tanggung jawab mereka kepada Tuhan.

Melalui surat redaksi ini, saya benar-benar bukan bertujuan untuk menakut-nakuti Anda supaya Anda memberi persembahan. Anda sendiri tahu bahwa saya hanyalah seorang jemaat biasa yang diberi kesempatan untuk menulis di Warta Jemaat. Jadi surat redaksi yang saya tulis ini benar-benar datang dari seorang jemaat biasa dan untuk rekan sesama jemaat pula. Dan menurut saya, kalau kita tidak memberi persembahan, termasuk perpuluhan, resikonya justru ada pada kita. Oleh karena itu, selama ada kesempatan untuk memberi persembahan dan perpuluhan, my friend, lakukanlah itu untuk Tuhan.