Hari ini, dunia lewat UNESCO memperingati penghapusan perbudakan. Hari internasional ini dimaksudkan untuk mengabadikan perlawanan para budak yang pernah terjadi pada tanggal 22-23 Agustus 1791 di Haiti. Kita mengingat agar kita dapat belajar. Kita mengingat agar kita dapat memperjuangkan keadilan. Kita mengingat agar kita tidak pernah membiarkan penderitaan seperti itu terulang kembali. Alkitab sendiri adalah kitab peringatan. Berulang kali, umat Allah diperintahkan: “Ingatlah.” Ingatlah apa yang telah Tuhan lakukan. Ingatlah mereka yang lapar, haus dan telanjang. Ingatlah para janda dan orang asing. Oleh karena itu, hari ini kita mengingat bukan hanya dengan pikiran kita, tetapi juga dengan hati kita. Alkitab memiliki bagian-bagian yang mengatur perbudakan pada jaman dulu, yang mungkin sulit dipahami dari perspektif modern. Tetapi Alkitab juga memuat prinsip-prinsip kuat yang menentang eksploitasi dan penindasan. Hari ini, kita mengingat perbudakan agar kita tidak merasa nyaman dengan ketidakadilan. Tanggung jawab kita sebagai pengikut Kristus adalah menyatakan kebenaran dan kebenaran yang harus kita ingat adalah setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Perbedaan warna kulit, kedudukan sosial, keadaan ekonomi atau kewarganegaraan seseorang tidak menjadikan mereka lebih atau kurang berharga di mata Tuhan. Tuhan berulang kali mengungkapkan kepedulian-Nya terhadap mereka yang menderita dan tertindas seperti yang dialami bangsa Israel di tanah Mesir (Keluaran 3:7). Ini memberi tahu kita sesuatu yang penting tentang karakter Tuhan. Sejarah perbudakan mengingatkan kita bahwa manusia dapat begitu terbiasa dengan ketidakadilan sehingga kita tidak lagi peka. Tetapi Tuhan tidak pernah terbiasa dengan ketidakadilan. Oleh karena itu, sebagai anggota tubuh Kristus, gereja tidak boleh merasa nyaman ketika orang lain menderita atau butuh pertolongan. Yesus mengatakan untuk mengasihi sesamamu manusia (Markus 12:31), artinya kita tidak boleh membeda-bedakan siapapun yang membutuhkan pertolongan. Tentu saja pertolongan tidak selalu harus dalam bentuk materi, tapi bisa dalam wujud doa, percakapan, kunjungan, makan bersama dan lain-lain. Ini sangatlah penting karena orang-orang yang tidak berdaya sekalipun, mereka tetaplah anak-anak Allah yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Pada hari peringatan tentang penghapusan perbudakan, marilah kita mengingat penderitaan yang pernah dialami mereka. Marilah kita mengingat mereka yang berjuang untuk penghapusan perbudakan. Marilah kita mengingat bahwa kebebasan itu berharga. Dan marilah kita mengingat bahwa Tuhan memanggil kita untuk mengasihi setiap manusia. Mungkin pertanyaan terpenting saat ini bukanlah sekedar: "Apakah kita ingat?", tapi kita akan menjadi seperti apa dengan mengingat? Kiranya peringatan penghapusan perbudakan di tanggal 23 Agustus ini membuat kita menjadi lebih berbelas kasih untuk memberikan harapan kepada yang putus asa dan keadilan kepada mereka yang telah dilupakan. Ingatlah!