Bethany Sydney
← Semua pesan

Minggu, 5 Juli 2026

PERJALANAN HIDUP

Oleh Jimmy Tjandra

Kalau seandainya pada jaman para Raja di Israel dulu ada survey tentang siapa Raja favorit, maka saya yakin bahwa Daud yang akan menduduki puncak survey tersebut. Bagaimana tidak, ketika semua tentara Israel ketakutan mendengar intimidasi dari Goliat, Daud dengan berani mengalahkan raksasa Filistin itu dengan senjata tradisional yang sederhana. Itupun dia lakukan bahkan saat dia masih belum cukup umur untuk maju berperang. Ketika Daud sudah resmi menjadi tentara dan kembali dari peperangan, banyak wanita yang menyanjung dia lebih dari Rajanya sendiri. Maklum saja, karena Daud memang adalah Raja pilihan Allah seperti yang dicatat dalam 1 Tawarikh 17:7, “Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman Tuhan semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel.”

Wah, wah, sejak Daud masih sangat muda, dia sudah menerima janji Tuhan. Dari gembala kambing domba di padang jadi Raja atas Israel. Namun demikian, di antara masa-masa Daud menjadi gembala sampai menjadi Raja, dia melalui sangat banyak hal yang tidak nyaman. Bahkan bisa dikatakan bahwa sebagian besar hidup Daud adalah masa kesusahan. Dikejar mertua sendiri, melarikan diri ke negara orang dan berpura-pura gila, hampir dirajam batu oleh anak buahnya, dan lain sebagainya. Bahkan setelah menjadi Raja, Daud masih juga dikejar dan mau dibunuh anaknya sendiri.

Belajar dari kehidupan Daud, menerima janji Tuhan tentu saja adalah hal yang sangat menyenangkan. Namun di pihak lain, menantikannya itu tidaklah semudah kedengarannya. Dari titik awal kita menerima janjiNya sampai janji itu menjadi kenyataan, kita harus melalui yang namanya perjalanan hidup. Dengan segala liku-likunya, dengan semua naik turunnya, segala badai masalah dan persoalan yang menyertainya, ditambah dengan beban dan tekanan hidup yang begitu berat, dan lain sebagainya. “Sebentar, sebentar. Tuhan ini sebenarnya ikhlas apa ngga sih memberikan janji?”, begitu pertanyaan yang mungkin sering timbul dalam pikiran kita. Terus terang saja, perjalanan hidup yang begitu berat memang bisa menjadikan kita ragu akan janji Tuhan. Bahkan tidak sedikit pula yang tidak kuat lalu kemudian mengambil jalan pintas dan melepaskan iman yang benar demi kehidupan yang dipikir lebih indah.

Contohnya saja, gadis desa sebelah yang meninggalkan Tuhan Yesus dan memeluk agama lain karena menikah dengan orang yang dia pikir bisa memberikan kebahagiaan hidup. Atau bagaimana dengan orang di kampung sana yang rela “memindahkan” imannya dengan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu untuk menjamin kelancaran karirnya? “Semua agama itu sama,” begitu katanya. Atau bahkan, “Sudahlah, ga Tuhan-Tuhanan, gapapa. Habis gimana lagi, sudah terlalu lama aku nunggu janji Tuhan.”

Fam, saya sungguh berharap bahwa tidak ada satupun dari antara kita yang harus melalui perjalanan hidup yang berat untuk menuju kepada penggenapan janji Tuhan. Namun kalau itu yang harus kita alami, ijinkan saya mengutip dan menggabungkan 2 pesan dari Habakuk 2:3 dan Ibrani 10:35-36. “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”

Dengan yakin katakan “Amin” kalau Anda masih mau menerima dan menunggu janji Tuhan, my friend. Tuhan Yesus Memberkati.