Bethany Sydney
← Semua pesan

Minggu, 12 Juli 2026

TUJUAN HIDUP

Oleh Jimmy Tjandra

Fam, saya yakin fam sekalian pasti tahu lagu rohani yang populer ini: Engkau tahu ya, Tuhan, tujuan hidupku hanyalah untuk menyenangkan hatiMu. Itu adalah lagu yang sangat menyentuh hati. Semua orang Kristen pasti memiliki kerinduan seperti itu, karena terus terang saja, itu memang adalah tujuan hidup yang sangat mulia. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa menyenangkan hati Tuhan? Dari pertanyaan itu saja, kita tahu bahwa fokus utama yang terpenting adalah hati Tuhan, bukan selera kita masing-masing. Mari saya beri contoh sederhana untuk memudahkan Anda sekalian mengerti apa yang saya maksudkan. Misalnya saja Ci Thelli suka makanan asin, tapi Pak Thelli (suaminya) suka makanan yang cenderung manis. Nah, kalau Ci Thelli ingin menyenangkan hati suaminya, maka Ci Thelli akan menaburkan lebih banyak garam daripada gula pada makanan yang dia masak untuk suaminya, bukan begitu? Anda mengerti apa yang saya maksudkan sekarang? Demikian juga kalau kita mau menyenangkan hati Tuhan, maka kita seharusnya melakukannya sesuai dengan selera Tuhan, bukan selera kita masing-masing. Kalau kita menyanyikan lagu pujian yang saya sebutkan tadi, misalnya, apakah Tuhan akan disenangkan? Oh, maaf, pertanyaan itu masih belum lengkap. Apakah Tuhan akan disenangkan dengan pujian yang kita nyanyikan kalau dengan mulut yang sama kita menggosip, mengatakan hal buruk tentang orang lain, dan lain sejenisnya? Atau ketika kita melakukan pelayanan, apakah Tuhan disenangkan? Astaga, maaf sekali lagi karena pertanyaan itu masih belum lengkap juga. Apakah hatiNya bersuka melihat kita melayani, kalau ketika masih mengenakan pakaian yang sama kita memandang rendah anak-anakNya yang lain, hati kita masih berisi kesombongan, dan lain sejenisnya? Sebentar, jangan salah paham dulu. Saya sama sekali bukan mengatakan bahwa segala kebaikan yang kita lakukan itu tidak baik. Sama sekali tidak. Saya justru berpikir bahwa kalau Anda sudah melakukan semua kebaikan itu, jangan berhenti melakukannya. Hanya saja, yang lebih tepat saya katakan adalah bahwa itu masih belum lengkap. Ketika orang Farisi dan ahli Taurat bertanya tentang hukum yang terutama dari seluruh Kitab Taurat, Yesus menjawabnya dalam Matius 22:37 dan 39, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Anda melihat bagian yang saya tebalkan itu? Mengasihi sesama manusia, ternyata memiliki pangkat yang sama dengan mengasihi Tuhan! Saya tidak tahu bagaimana Anda menangkap pesan Firman di atas, tapi saya melihat bahwa menyenangkan hati Tuhan bukan hanya berbicara tentang alunan nada indah yang kita lantunkan bagi Dia, tapi juga tentang bagaimana kita bertutur kata dan bersikap kepada orang lain. Menyenangkan hati Tuhan bukan hanya berbicara tentang air mata yang kita cucurkan ketika menyanyikan lagu pujian bagi Dia, tapi juga tentang senyuman yang kita berikan kepada sesama kita. Menyenangkan hati Tuhan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di dalam Gereja, tapi juga ketika kita melangkah keluar dari Gereja. Terutama ketika kita di luar Gereja. Segala yang telah kita lakukan bagi Tuhan, mari kita “sempurnakan” dengan kebaikan bagi sesama kita. Supaya ketika kita menyanyi atau sekedar bertanya kepada Tuhan, ”Engkau tahu kan, tujuan hidupku hanyalah untuk menyenangkan hatiMu?” Jangan sampai Tuhan menjawab, ”Oh, Aku tahu, anakKu, tapi apakah kau tahu itu?” Tuhan Yesus Memberkati.