“Do you love Me?” begitu Yesus bertanya sampai tiga kali kepada Petrus dalam Yohanes 21:15-17. Kok dalam bahasa Inggris? No why why (bukan kenapa napa), kan kita di Oz, jadi bolehlah sekali-kali memakai bahasa Inggris. Sekalipun saya telah membaca ayat ini berulang kali, tapi entah mengapa hati saya bergetar ketika merenungkannya kali ini. Maksud saya, pertanyaan Yesus kepada Petrus itu sebenarnya juga adalah pertanyaan bagi kita juga.
Sebagai orang Kristen, tentu saja kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan segera. Bukankah kita telah menyanyi dan memuji Tuhan dengan segenap hati dan disertai dengan linangan air mata? Kita juga membaca FirmanNya dengan setia, berdoa tanpa pernah absen. Ah, pokoknya betapa indah waktu bersama dengan Tuhan. Oleh karena itu, dengan yakin kita bisa menjawab seperti Petrus menjawab,"Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau."
Namun sepertinya Tuhan kurang puas dengan jawaban itu sehingga Dia bertanya lagi, "Do you love Me?” Kita yang ditanya sampai 2 kali, langsung berpikir bahwa Tuhan tidak tahu apa yang telah kita lakukan bagi Dia. Bukankah kita juga telah melakukan pelayanan dengan setia, seperti mengoperasikan multimedia, atau ehm, menulis untuk Tuhan? Oleh karena itu, kita tidak ragu lagi memberikan jawaban yang sama,”Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”
Terus terang saja, wajar kalau kita jadi sedih ketika Tuhan masih juga bertanya untuk yang ketiga kalinya, "Do you love Me?” Bukankah kita telah mengikuti Dia, rajin ke Gereja, rajin ke family altar, dan lain sebagainya? Rupanya kita menjadi sedih karena kita fokus kepada pertanyaan Tuhan. Kita pikir bahwa setelah menjawab, maka ya sudah selesai perkaranya. Kita tidak terlalu memperhatikan reaksi Yesus yang setiap kali berkata, "Gembalakanlah domba-dombaku,” setelah kita menjawab Dia.
Tentu saja Yesus bukan menyuruh kita semua untuk menjadi gembala. Baik gembala kambing domba, ataupun menjadi gembala di Gereja. Saya yakin Pak Han-Han justru akan jadi bingung kalau semua jemaatnya jadi gembala. Poin yang saya tangkap dari apa yang dikatakan Yesus bukan terletak pada apa yang telah kita lakukan untuk Dia, melainkan apa yang telah kita lakukan untuk domba-dombaNya, untuk sesama kita. Atau mungkin yang lebih tepat dalam hal ini adalah apa yang tidak kita lakukan kepada sesama. Ketika Yesus dihina, Dia memberkati. Ketika Yesus dibenci, Dia mengasihi. Bahkan ketika Yesus disalib, Dia mengampuni orang-orang yang menyalibkanNya. Yesus tidak membalas perbuatan orang-orang di sekelilingNya. Itulah yang dilakukan Gembala Agung kita untuk domba-dombaNya, untuk kita. Dan itulah yang Dia maksudkan agar kita menggembalakan domba-dombaNya.
Kalau mau jujur, sebagai manusia, kita lebih sering mengutamakan diri sendiri. Ketika kita merasa tersinggung, sekalipun dia tidak sengaja, tidakkah kita minimal membuang nama orang itu dari daftar doa kita? Mengasihi orang juga sering kita lakukan hanya sebatas senyuman yang dipaksakan di bibir, padahal hati kita berkata, "Emang gue pikirin?” Kemunafikan, keserakahan, dan keegoisan, lebih sering mewarnai hidup kita sebagai ganti mengikuti teladan yang telah diberikan Yesus kepada kita.
Saya sama sekali tidak bermaksud menuduh atau menghakimi, fam. Namun di hari Paskah ini, puncak dimana Yesus menyatakan kasihNya, pertanyaan yang sama masih terngiang-ngiang dalam pikiran saya, “Do you love Me?” Kalau Anda juga merasakan hal yang sama, jangan buru-buru menjawab, my friend, tapi dengarkan apa yang Dia katakan setelahnya,”Gembalakanlah domba-dombaku.”
Tuhan Yesus Memberkati.