Baru-baru ini, kita merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia dengan penuh semangat. Momen ini dirayakan dengan meriah oleh masyarakat di berbagai penjuru negeri, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Bahkan di negeri kanguru, Australia, kita pun turut merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan penuh sukacita dan kebersamaan.
Dalam perayaan kemerdekaan, kita sering melihat berbagai acara dan perlombaan yang diselenggarakan untuk memeriahkan suasana. Antusiasme masyarakat begitu besar karena di setiap perlombaan biasanya tersedia hadiah bagi mereka yang berhasil menjadi pemenang.
Namun, kemenangan tidak pernah diperoleh begitu saja. Seorang peserta harus berlatih, mempersiapkan diri, memiliki disiplin, serta menggunakan teknik dan strategi yang tepat. Mereka yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri tentu memiliki peluang yang lebih besar untuk meraih kemenangan.
Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani kita. Rasul Paulus menggambarkan kehidupan orang percaya seperti seorang atlet yang sedang berada dalam sebuah perlombaan.
1 Korintus 9:24-27 “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang dapat binasa, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang tidak dapat binasa. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."
Paulus mengingatkan bahwa kehidupan kekristenan bukanlah kehidupan yang dijalani dengan sembarangan. Seperti seorang atlet yang berlatih dengan disiplin, orang percaya juga perlu terus melatih kehidupan rohaninya.
Tidak ada mentalitas pemenang tanpa disiplin.
Seorang atlet tidak berlatih hanya ketika ia sedang ingin berlatih. Ia tetap berlatih sekalipun tubuhnya lelah karena ia mengetahui tujuan yang ingin dicapainya.
Demikian juga kehidupan rohani kita. Kita tidak mencari Tuhan hanya ketika sedang menghadapi masalah. Kita membangun kehidupan bersama Tuhan setiap hari karena kita menyadari bahwa perjalanan kehidupan ini adalah sebuah perjuangan iman.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita memiliki musuh yang terus berusaha menjatuhkan dan melemahkan iman kita. Karena itu, kehidupan rohani kita tidak boleh kosong atau rapuh. Kita harus memiliki fondasi iman yang kuat sehingga kita tidak mudah digoyahkan oleh pencobaan, tekanan, maupun tipu daya si jahat.
1 Yohanes 5:4 “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita."
Iman bukan berarti kehidupan kita tidak akan pernah menghadapi masalah. Iman berarti kita tetap percaya kepada Tuhan di tengah masalah. Iman membuat kita tetap berdiri ketika keadaan mengguncang. Iman membuat kita tetap berharap ketika situasi belum berubah.
Dan dasar iman kita bukanlah perasaan atau kekuatan kita sendiri, melainkan Yesus Kristus yang telah menang atas dosa dan maut.
Karena itu, seperti seorang atlet yang membawa mentalitas seorang pemenang, kita pun harus memiliki mentalitas pemenang secara rohani. Jangan menjalani kehidupan kekristenan dengan setengah-setengah. Bangunlah kehidupan rohani yang berbobot dan memiliki fondasi yang kuat di dalam Tuhan.
Sebab ketika kehidupan rohani kita semakin kuat, iman kita tidak akan mudah digoyahkan oleh keadaan.
Kita bukan berjuang untuk mendapatkan kemenangan dengan kekuatan kita sendiri. Kita berjuang dari kemenangan yang sudah Kristus kerjakan bagi kita dan jadilah pribadi yang hidup dalam mentalitas seorang pemenang di dalam Kristus.