Langsung ke konten

Khotbah

Anak Cucu Menjadi Berkat

Ps. Agus GunawanMinggu, 1 November 2026

Catatan khotbah

Pemazmur bersaksi, "Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat" (Mazmur 37:25-26). Tuhan rindu memberkati keturunan kita: "Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya" (Mazmur 112:2-3). Janji ini nyata, tetapi ada bagian yang perlu kita kerjakan.

Iman Tidak Otomatis Diwariskan

Alkitab mencatat banyak orang tua yang mengenal Tuhan, tetapi anak cucunya tidak semua menjadi berkat. Kain, anak Adam dan Hawa, membunuh Habel adiknya (Kejadian 4:8). Lot disebut "orang yang benar" (2 Petrus 2:7), tetapi keluarganya tidak menjadi berkat. Ishak dan Ribka memiliki pernikahan monogami yang luar biasa, tetapi Esau ingin membunuh Yakub. Sepuluh anak Yakub hendak membunuh Yusuf, memasukkannya ke dalam sumur, menjualnya ke Mesir, lalu membohongi ayah mereka. Anak-anak Eli, Hofni dan Pinehas, "adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN" (1 Samuel 2:12). Anak-anak Samuel "tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan" (1 Samuel 8:3). Bahkan Daud, orang yang berkenan di hati Tuhan, mengalami kepahitan dalam keluarganya melalui Amnon, Tamar dan Absalom.

Rumah yang Berpusat pada Kasih kepada Tuhan

"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan 6:4-5). Perintah ini harus diajarkan di rumah: "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun" (Ulangan 6:7), "supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu" (Ulangan 6:2). Jangan jadikan rumah kita sekadar motel, tempat singgah untuk tidur dan makan. Jadikan rumah kita "jemaat di rumahmu" (Filemon 1:2), tempat Tuhan dikasihi, termasuk melalui Family Altar. Warisan terbesar bagi anak cucu bukan harta, sebab kita telah ditebus "bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus" (1 Petrus 1:18-19).

Ps. Agus bersyukur telah 22 tahun menjadi tuan rumah paduan suara anak Watoto dari Uganda. Di desa-desa Watoto, anak-anak yatim piatu dibesarkan dalam sebuah rumah oleh seorang "mama" yang mengasihi Tuhan, dan sebagian dari mereka kini melayani sebagai pendeta. Namun anak-anak juga melihat apakah kasih kita kepada Tuhan sungguh nyata. Yesus menegur, "Hai orang-orang munafik! ... Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku" (Matius 15:7-8). Kalau kita tampak rohani di gereja tetapi berbeda di rumah, anak-anak belajar kemunafikan. Mari bercermin dan membereskan hidup kita lebih dulu.

Rumah yang Mendidik dan Melatih Anak

"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" (Amsal 22:6). Jangan hanya mengandalkan sekolah Minggu atau sekolah Kristen. Kalau kita tidak mengajar anak-anak kita, Hollywood dan lingkungan sekitar yang akan mengajar mereka. Tanggung jawab ini berlanjut sampai kepada cucu-cucu kita.

"Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja" (Ibrani 11:23). Amram dan Yokhebed menaruh Musa di dalam peti pandan di sungai Nil dan mempercayakannya kepada Tuhan (Keluaran 2:3). Tuhan mengembalikan Musa ke pangkuan ibunya untuk disusui, dan didikan iman pada tahun-tahun awal itu tidak terhapus oleh puluhan tahun pendidikan Mesir. Lewi pernah berada di bawah kutuk, "Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras" (Kejadian 49:7), tetapi dari rumah Amram dan Yokhebed lahir Miriam, Harun dan Musa.

Rahab mengikatkan tali dari benang kirmizi pada jendelanya dan mengumpulkan seluruh keluarganya di rumahnya (Yosua 2:18). Ketika tembok Yerikho runtuh, Rahab dan semua yang ada di rumahnya selamat, dan namanya tercatat dalam silsilah Tuhan Yesus. Benang kirmizi itu mengingatkan kita akan darah Kristus. Hanya darah Yesus yang dapat menyelamatkan keluarga kita dan membuat anak, cucu, dan cicit kita diberkati dan menjadi berkat. Apa satu langkah yang akan Anda ambil minggu ini untuk menjadikan rumah Anda tempat Tuhan dikasihi dan anak-anak dididik dalam firman-Nya? Tuhan Yesus Memberkati.