Langsung ke konten

Khotbah

Hidup di Akhir Zaman

Ps. Natanael Ferry SuhendroMinggu, 25 Oktober 2026

Catatan khotbah

Kalau Tuhan Yesus datang hari ini, apakah kita sudah siap bertemu dengan Dia? Teknologi semakin maju, bahkan AI sudah menjadi bagian dari hidup kita, tetapi banyak orang semakin jauh dari Tuhan. "Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar" (2 Timotius 3:1), ketika manusia "lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah" (2 Timotius 3:4). Yesus berkata, "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera" (Matius 24:37-38). Makan, minum, dan menikah bukanlah hal yang salah; itu kehidupan normal. Yang salah adalah ketika kita sibuk mengumpulkan harta di bumi dan melupakan Tuhan. Tuhan datang dengan dua cara: secara pribadi, ketika Ia memanggil kita pulang, dan secara global, ketika Ia datang kembali. Jadi pertanyaannya bukan "kapan Yesus datang?", tetapi "kalau Yesus memanggil saya hari ini, apakah saya siap?"

Hidup dalam Takut akan Tuhan

"Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya" (Ibrani 11:7). Kata "dengan taat" (eulabeomai) berarti melakukan perintah Tuhan dengan hormat dan takut akan Tuhan. "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (Yohanes 14:15). Kasih kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari ketaatan. Tanpa mesin modern, Nuh membangun bahtera yang menurut banyak ahli teologi memakan waktu sekitar 120 tahun, dan "Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya" (Kejadian 6:22). Hari ini kita juga sedang membangun bahtera kehidupan rohani kita melalui doa, firman, ibadah, dan ketaatan. Iman yang sejati bukan hanya percaya kepada apa yang Tuhan katakan, tetapi juga menaati apa yang Tuhan perintahkan.

Berjalan Bersama Tuhan

"Nuh itu hidup bergaul dengan Allah" (Kejadian 6:9). Berjalan bersama Tuhan berarti, pertama, percaya penuh kepada-Nya: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri" (Amsal 3:5). Marta dan Maria berharap Lazarus disembuhkan, tetapi Yesus merencanakan kebangkitan. Kedua, sepakat dengan kehendak-Nya: "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?" (Amos 3:3). Ketiga, menyerahkan rencana kita: "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya" (Amsal 16:9). Ps. Natanael bersaksi bahwa liburan ulang tahun pernikahan ke-25 ke China yang direncanakan sejak April batal, sehingga keluarganya pulang ke Indonesia pada bulan Oktober. Karena itu ia dapat menemani mamanya di saat-saat kritis di rumah sakit dan mengantarnya pulang kepada Tuhan pada 2 Oktober.

Menjadi Saksi Tuhan

Nuh disebut "pemberita kebenaran" (2 Petrus 2:5). Walaupun banyak orang meragukan dan menolak, keluarganya percaya dan diselamatkan. Jangan sampai anak-anak kita mengenal banyak hal tentang dunia tetapi tidak mengenal firman Tuhan, atau kita mencukupi kebutuhan materi mereka tetapi tidak pernah meluangkan waktu untuk berdoa bersama mereka. Keselamatan tidak otomatis diwariskan dari orang tua kepada anak. Jangan menyerah; teruslah mendoakan keluarga Anda.

Semua Karena Kasih Karunia

"Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN" (Kejadian 6:8). Sebelum Alkitab menceritakan ketaatan Nuh, Alkitab lebih dulu menyatakan kasih karunia Tuhan atasnya. Nuh bukan manusia sempurna. Begitu juga kita: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9). Ketaatan adalah buah dari iman, bukan harga keselamatan.

Kedatangan Tuhan bukan sesuatu yang harus kita takuti; justru kedatangan Tuhan adalah pengharapan kita. Mari hidup takut akan Tuhan, berjalan bersama Tuhan, dan menjadi saksi-Nya, sehingga ketika Ia datang kita dapat berkata, "Tuhan, aku siap." Tuhan Yesus Memberkati.