Biasanya, istilah standar ganda ini merujuk kepada sesuatu yang negatif, bukan begitu? Namun hari ini, ijinkan saya mengajak kita semua untuk memiliki standar ganda dalam hidup kita terutama dalam hubungan kita dengan orang lain.
Standar yang pertama adalah standar ke dalam. Yesus berkata dalam Matius 7:12,”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Ini adalah standar yang kita kenakan kepada diri kita sendiri. Jadi kalau kita mau orang lain baik kepada kita, maka kitalah yang harus baik kepada mereka terlebih dahulu. Senada dengan itu, Paulus memberikan pengarahan kepada jemaat di Filipi,”Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Begitu yang dia tulis dalam Filipi 2:3. Terus terang saja, ini adalah standar yang sangat sulit diterapkan. Masalahnya, sekalipun kita kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menerapkan standar seperti itu, semua kebaikan dan keramahan yang kita berikan kepada orang lain belum tentu dibalas dengan kebaikan yang sama kepada kita. Oleh karena itulah kita perlu menerapkan standar yang kedua.
Standar yang kedua adalah standar keluar. Dalam bahasa Mandarin, ada perkataan yang berbunyi “hao xin mei hao bao”. Kira-kira artinya adalah maksud baik tidak mendapatkan balasan yang baik. Penerapan standar ini bukan untuk kita sendiri, melainkan harus disematkan kepada orang lain. Maksud saya, jangan pernah berharap orang itu akan membalas budi kepada kita. Kita sangat perlu untuk menjaga hati untuk selalu tulus dalam melakukan kebaikan. Kita mau melakukannya, semata-mata karena kita memang mau melakukannya, bukan karena harapan akan imbalan tertentu. Ini sangat perlu untuk terhindar dari kekecewaan di masa yang akan datang.
Anda mungkin berpikir bahwa apa yang saya katakan ini lebih berlandaskan pada prinsip sekuler, karena dimana ada ayat Alkitab yang berbunyi hao xin mei hao bao? Memang tidak ada. Namun tidak ada dalam Alkitab, tidak selalu berarti tidak Alkitabiah. Jadi waktu itu ada seorang filsuf Cina yang ditanya tentang Yesus. Sambil mengelus janggut putihnya yang panjang, dia menjawab singkat,”Hao xin mei hao bao.” Tidak, tidak, itu hanya karangan saya saja. Maksudnya, kalau seluruh hidup Yesus harus dinyatakan dalam satu kalimat saja, maka perkataan dalam bahasa Mandarin itu akan mewakilinya. Bukankah Yesus memiliki maksud yang baik? Namun sebagai balasan atas kasih dan kebaikanNya itu, salib yang diberikan kepadaNya. Namun demikian, hanya karena Dia tidak menerima hao bao, itu tidak membuat Yesus menjadi tidak hao xin.
Dalam kalimat yang lebih pendek, standar ganda ini berarti bahwa kalau kita utang budi kepada orang lain, segeralah melunasinya, tapi kalau orang lain yang berutang budi kepada kita, jangan pernah berharap balasan darinya. Tentu saja, karena kita lebih berharap kepada Tuhan, bukan begitu?
Hmm, iya juga, tapi beranikah kita mengambil langkah lebih jauh lagi dengan meneladani 3 pemuda Yahudi yang bahkan tidak berharap balasan dari Allah dalam Daniel 3:17-18,”Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”?
Tuhan Yesus memberkati.

