Salah satu tanda orang baik adalah senyuman yang terpampang di wajahnya, bukan begitu? Oleh karena itu, senyuman adalah fitur yang sangat penting di wajah kita. Berdasarkan hukum tersebut, maka kita bisa berkata bahwa pada dasarnya semua orang adalah orang baik. Ya, semua.
Coba saja lihat orang yang di sana itu, wah, senyumannya sangat berseri-seri ... tapi, kok hanya kepada orang tertentu saja, ya? Kepada orang yang lebih kaya, lebih berkuasa, pokok yang lebih dari dirinya sendiri. Kalau kepada orang yang dipikir tidak mendatangkan manfaat bagi dia, maka senyumannya juga langsung lenyap. Saya tahu itu memang umum terjadi di dunia sekuler, tapi bagaimana dengan di kalangan "anak-anak Tuhan"? Rupanya tipe "orang baik" seperti ini memang telah lama ada, sampai-sampai Yakobus, adik Yesus sendiri, berkata dalam Yakobus 2:1,"Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” Lebih jauh lagi, dia melanjutkan di ayat 4,”Bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?" Astaga, ternyata orang baik yang tersenyum hanya kepada orang tertentu itu tidak termasuk baik, ya.
Hmm, kalau begitu, bagaimana dengan orang baik yang di sebelahnya itu, yang tersenyum tanpa memandang siapa... tapi, kok di saat-saat tertentu saja, ya? Kalau sebelumnya dia tidak pernah tersenyum, tiba-tiba saja dia tersenyum manis saat dia membutuhkan sesuatu. Kebaikannya adalah produk yang dia pakai untuk mendapatkan kebaikan orang lain. Kalau dia tidak mendapat apa yang dia harapkan, maka senyumnya juga kembali menguap. Yesus berkata dalam Lukas 6:33,"Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.” Wah, kacau, ternyata orang baik tipe ini malah mengingatkanNya kepada orang berdosa, lho.
Atau bagaimana dengan yang di ujung sana itu? Senyumnya tampak tulus dan kepada semua orang tapi, kok di tempat-tempat tertentu saja, ya? Rupanya orang ini memiliki kehidupan di luar Gereja yang sangat bertolak belakang dengan penampakan yang dia tunjukkan di dalam Gereja. Sepertinya, dia memiliki dua wajah. Di dalam Gereja, dia membuat Malaikat minder. Di luar Gereja, ganti Setan yang jadi minder melihat kelakuannya. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran," begitu Yesus mengecam mereka dalam Matius 23:27. Gawat, Yesus malah menyebut orang baik tipe ini dengan sebutan yang sangat pas, munafik.
Jadi kalau begitu, bagaimana seharusnya orang yang baik itu? "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Itu penjelasan Paulus dalam Roma 12:2. Paulus tahu bahwa kalau orang itu menjadi baik karena pembaharuan budi, yaitu timbul dari dalam hatinya dan bukan sekedar polesan saja, maka seharusnya kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun, senyumnya akan selalu menghiasi wajahnya dengan tulus.
Ah, kalau saya melihat Anda, saya kok yakin Anda adalah tipe orang baik yang terakhir. Pertanyaannya, my friend, itu hanya perasaan saya saja ataukah memang begitulah yang sesungguhnya?
Tuhan Yesus memberkati.

