Catatan khotbah
Di padang gurun En-Gedi, Saul membawa tiga ribu orang pilihan untuk memburu Daud. Lalu Saul masuk ke dalam sebuah gua untuk membuang hajat, gua yang sama tempat Daud dan orang-orangnya bersembunyi (1 Samuel 24:2-4). Tidak ada yang kebetulan; Tuhan merancang semuanya dengan begitu detail untuk menyatakan kualitas hati Daud. Hati kita tidak diuji pada saat keadaan baik-baik saja, melainkan pada saat kita berada di dalam "gua kehidupan", ketika kita disakiti dan sebenarnya punya kuasa untuk membalas. Hati yang teruji akan membentuk karakter yang terpuji.
Hati yang Menolak Jalan Pintas
Hati yang teruji adalah hati yang menolak jalan pintas dan setia menunggu penggenapan janji Tuhan. Daud sudah diurapi menjadi raja, tetapi ia memegang prinsip: Tuhan yang mengangkat Saul, Tuhan juga yang akan menurunkannya. Iblis juga menawarkan jalan pintas kepada Yesus, tetapi Yesus menjawab, "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Matius 4:10). Jalan pintas bisa berupa mengorbankan ibadah demi jabatan, menjatuhkan rekan kerja, atau berbuat curang demi kekayaan. "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan" (Lukas 12:15). Tidak setiap pintu yang terbuka datang dari Tuhan, dan "orang yang tergesa-gesa akan salah langkah" (Amsal 19:2). Seperti lampu merah, ketika Tuhan berkata "tunggu", itu bukan hukuman melainkan perlindungan.
Hati yang Peka terhadap Suara Roh Kudus
"Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul" (1 Samuel 24:6). Punca jubah itu melambangkan otoritas raja, dan Daud sadar ia telah menjamah orang yang diurapi TUHAN (1 Samuel 24:7). Sebaliknya, Saul telah kehilangan kepekaan rohaninya tanpa ia sadari. Dosa yang tampak kecil, seperti iri hati, gosip, atau bohong kecil, tetaplah dosa. "Seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib" (Amsal 16:28). Kepekaan terhadap Roh Kudus didapat ketika kita bergaul karib dengan firman-Nya.
Hati yang Mau Mengampuni dan Merendahkan Diri
Daud bukan saja tidak membunuh Saul; ia juga melarang orang-orangnya menyerang Saul. Ia memanggil Saul "tuanku raja", sujud dengan mukanya sampai ke tanah, menyebutnya "orang yang diurapi TUHAN" dan "ayahku", serta menyebut dirinya sendiri "anjing mati" dan "seekor kutu saja" (1 Samuel 24:9-15). Yesus berkata, "Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu" (Lukas 6:27). Kita tidak akan mampu mengampuni dengan mengandalkan perasaan; kita butuh komitmen di dalam hati dan kekuatan dari Roh Kudus. "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah" (Amsal 15:1).
Tuhan Dekat kepada Orang yang Patah Hati
"TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya" (Mazmur 34:19). Kedekatan itu adalah undangan untuk duduk dekat dan belajar dari Yesus, yang dikhianati, diludahi, dan disalibkan namun tetap berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka." Corrie ten Boom, yang kehilangan keluarganya di kamp konsentrasi, mampu berkata "Brother, I forgive you" kepada bekas penjaga kamp itu, dan ia menyimpulkan: "Forgiveness is setting the prisoner free, only to find out that the prisoner was me." Daud menyerahkan pembalasan kepada Tuhan: "TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau... tetapi tanganku tidak akan memukul engkau" (1 Samuel 24:13), sebab "Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan" (Roma 12:19).
Seperti kantong teh yang baru mengeluarkan warna dan aroma ketika disiram air panas, tekanan dan kekecewaan menyatakan apa yang ada di dalam hati kita. Hidup Daud terus "disiram air panas" oleh Saul, namun yang keluar selalu kasih dan pengampunan, sehingga Tuhan menyebutnya seorang yang berkenan di hati-Nya (Kisah Para Rasul 13:22). Mari kita menolak jalan pintas, peka terhadap suara Roh Kudus, serta mau mengampuni dan merendahkan diri. Tuhan Yesus Memberkati.




