Langsung ke konten

Khotbah

Menjadi Manusia Roh

Ps. Yusuf ManubuluMinggu, 4 Oktober 2026

Catatan khotbah

“Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan" (2 Korintus 3:17). Bapa mencari penyembah-penyembah benar yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23-24). Karena Allah adalah Roh, kita hanya dapat bersekutu dengan-Nya bila kita hidup sebagai manusia roh.

Dari bayangan menuju kenyataan Perjanjian Lama banyak berbicara tentang hal-hal jasmani: berkat jasmani, keturunan jasmani, peperangan jasmani. Semua itu adalah bayangan. Yakub memiliki dua belas anak secara jasmani; Kristus, Israel yang sejati, “melahirkan" dua belas rasul secara rohani. Daud dan Simson adalah raja dan pahlawan yang perkasa, tetapi Pahlawan sejati adalah Yesus. Peperangan Israel menunjuk pada peperangan kita yang sesungguhnya, yang bukan melawan darah dan daging, tetapi melawan roh-roh jahat (Efesus 6:12). Tujuan Tuhan adalah memindahkan kita dari daging kepada roh, dari maut kepada hidup, dari gelap kepada terang, supaya kita serupa dengan Dia.

Mencari Tuhan untuk apa? Orang banyak mengejar Yesus dari kota ke kota, tetapi Ia berkata, "Kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal" (Yohanes 6:26-27). Israel di padang gurun pun terus merindukan daging di Mesir. Kita perlu memeriksa motivasi kita: apakah kita mencari Tuhan hanya demi dompet yang tebal, kesembuhan jasmani, atau kenyamanan hidup?

Keinginan daging tidak pernah puas Keinginan daging, seperti perseteruan, percabulan, iri hati, dan hawa nafsu, selalu menuntut lebih. Seratus juta tidak cukup, tiga mobil pun tidak cukup. Siapa yang minum air sumur Yakub akan haus lagi, tetapi air yang Yesus berikan memuaskan untuk selama-lamanya (Yohanes 4:13-14). "Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera" (Roma 8:6). "Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup" (Roma 8:13).

Roh selalu menghidupkan Ketika ahli-ahli Taurat membawa perempuan yang kedapatan berzinah, mereka berpikir secara daging: rajam dia. Yesus menjawab, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu" (Yohanes 8:7). Tuhan tidak membatalkan firman-Nya; pemahaman merekalah yang harus berubah. Yesus adalah Batu Kehidupan. Ketika manusia berdosa berjumpa dengan-Nya, kedagingannya yang mati, tetapi ia sendiri dihidupkan.

Biarkan daging mati supaya Roh bekerja Abraham, karena lelah menunggu, mengambil jalan daging melalui Hagar. Tetapi Tuhan menunggu sampai tubuh Sara tidak mungkin lagi melahirkan, supaya Ishak lahir sebagai anak janji, anak dari kuasa Tuhan. Selama kita masih mengandalkan daging, Tuhan sering kali berdiam diri; ketika daging kita mati, Tuhan bertindak.

Mungkin ada doa yang bertahun-tahun belum terjawab. Mari memeriksa diri: apakah pikiran, perkataan, mata, dan keinginan kita masih dikuasai daging? Jangan hanya memimpikan pengangkatan; tanyakan setiap pagi, "Hari ini aku hidup menurut roh atau menurut daging?" Jadilah manusia roh, supaya Tuhan hadir setiap hari dalam hidup kita.